welcome itu selamat datang
di blog anggawedhaswhara
untuk mengunjungi websitenya,
silahkan scan QR-Code berikut

whatyourart

enter itu masuk

Wednesday, October 17, 2012

HELLO WORLD! (Again)

wow! akhirnya mengunjungi blog ini kembali...
postingan terakhir sy adalah di 2012... mohon maaf..
tapi mungkin nanti saya akan kembali lagi.. sementara
kawan-kawan bisa kunjungi tumblog lain sy di www.perfarmerlab.tumblr.com..
dan tentu di website utama sy, http://perfarmerlab.com

oh ya, kabar terakhir sy... kawan-kawan bs unduh komik terbaru saya di sini dan di sini


babay...

Monday, September 20, 2010

eLXe land character preview...

cloudy
vungky
lumpy
cody
Photobucket

Thursday, September 16, 2010

eLXe land preview



to preview my new baby born... eLXeland...

Monday, August 16, 2010

CATATAN PENDEK 15 AGUSTUS 2010

Infotaintment 1

:Syahrini

Tidakkah kau sadari? bahwa sesungguhnya perselingkuhan Krisdayanti telah menjadi berkah melimpah untukmu. Berterimakasihlah padanya cantik.

15 Agustus 2010


Newsticker 1 : Pramuka

:SBY

Apakah Bapak berpikir kalo pramuka itu hampir serupa tabung gas, harus distandarisasi dan disertifikasi? Pramuka itu soaljiwa, bukan soal sertifikat dan standar kelayakan. Soal pramuka biar Circle K, Indomaret, KFC,Mc Donald, dan telpon selular yang urus. Persis seperti Jambore Nasional di Kiara Payung tempo hari.

15 Agustus 2010


Infotaintment 2

:KD

Melihat konferensi pers mu di TV, aku malah jadi menduga-duga, kalo kamu lebih butuh bodyguard daripada seorang suami dan anak-anak yang mencintaimu. Maaf.

15 Agustus 2010


Newsticker 2 : Kapolri lari

:SBY

Bapak tentu lebih paham apa yang sedangterjadi. Tapi buat saya ini cukup menyebalkan. Tak cuman Anggota Dewan yang terhormat mampu membolos kerja, ternyata Kapolri pun begitu. Kalo sudah begitu saya jadi ingat apa kata orang tua saya dahulu. Jadi keamanan teh kalahkah amankeuneun!

15 Agustus 2010


Newsticker 3 : Mesjid di Ground Zero USA

:Obama

Apakah kamu pikir dengan merestui pendiria mesjid disana bisa mengembalikan nyawa jutaan manusia di Afganistan dan Irak yang negaramu invasi dengan dalih pemberantasan terorisme?. Jangan sembarangan, tuduhanmu itu telah menyebabkan seorang guru ngaji di negeri kami berurusan dengan kerangkeng penjara. Jika sudah begitu, apakah kamu bisa menghentikan apa yang kau sebut terorisme. Alilh-alih mengatasi kau malah sedang melahirkan teroris-teroris baru. Dan jika teroris-teroris yang kau maksud adalah orang-orang yang berjuang dijalan Tuhanny demi mencari kemerdekaan yang sebenarnya, maka aku deklarasikan keterorisanku hari ini. Sambil berdoa bahwa semesta dalam perut istriku kelak menjadi teroris juga.

15 Agustus 2010

Sunday, June 27, 2010

ceracau nyamuk di malam pertama JARF 2010

malam ini saya kesulitan tidur... kenapa? bukan kenapa... tapi bagaimana bisa? ya... karena banyak yang "mengganggu" kepala saya semenjak malam pembukaan JARF 2010 ini. Oh ya, saya rasa tak perlulah berkisah banyak tentang apa itu JARF, kawan-kawan bisa klik laman ini . Singkatnya adalah sebuah sebuah festival 2 tahunan yang digagas oleh kawan-kawan dari JATIWANGI ART FACTORY .

Seperti layaknya sebuah festival yang memerlukan proses residensi, pastilah diawali dengan sebuah malam pembukaan. Pada JARF ini pembukaan festival diadakan di Desa Loji, dimana saya adalah salah satu dari tiga seniman yang ditempatkan di desa tersebut. Lainnya adalah Handi Hermansyah yang juga dari Bandung dan Ghazi Alqudcy dari Singapura.

ah... nanti saya lanjutkan... karena e karena... saya ngantuk... dan batal kesulitan tidur... padahal masih ada yang mengganggu dibenak saya... ya... besok saja saya lanjutkan...

peluk hangat... muah.. muah..

Tuesday, June 22, 2010

Kangen

(Kau tak akan mengerti
Bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti
Segala lukaku
Karena luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

(KANGEN-W.S.RENDRA)

Thursday, May 27, 2010

ENVIRONMENTAL ART


Presentasi karya performance art berdasarkan riset, pencermatan dan penangkapan terhadap gejala juga kejadian yang sedang terjadi di lingkungan tak lepas dari suhu kehidupan.

Lingkungan sebagai bagian dari oragan tubuh berkaitan dengan transformasi pemikiran presentasi karya bertempat di Pusat Kebudayaan Cigondewah di ikuti performance artist nasional dan internasional.

Berhubungan dengan riset air, Mahasiswa Kimia dari Singapura.

Acara di laksanakan pada tanggal 29 - 30 Mei 2010 di mulai jam 1 siang
di buka oleh warga, mahasiswa, dosen, dan instansi setempat

Seniman :
Tisna Sanjaya
Isa Perkasa
Rudi St Darma
Atieq S.S. Listyowati
W. Christiawan
R.Jabaril
Anggawedhaswhara
Agung Jek
Ackay Deni
Hendryeite Louis
Aliansyah
Iip Ipan
Mi-ink & Kelas Ajag
Asep Nugraha
Soge Ahmad
Fajar Abadi
Dinamokillig
Dll

Guest Star :
Karinding Militant
Pakbrung
Sasaka
Bob Teguh Dkk
Komunitas T-Shirt Harax
Dll


info lebih lanjut bisa dilihat di sini. mari kita bikin CEUYAH!

Wednesday, May 19, 2010

WHAT YOUR ART ARE FOR?


seni itu untuk kehidupan,
dia harus bisa memanusiakan manusia.
jika seni untuk seni (art for art), untuk apa?
mungkin itu sama seperti makan untuk makanan.


Ya, what your art are for?

Pertanyaan ini terus mengganggu keseharian sejak beberapa tahun terakhir ini. Mungkin sejak 2006 atau 2007. Saya, lupa pastinya. Yang jelas sejak saya membaca wawancara disalah satu harian terkemuka dengan KH. Mustofa Bisri. Ditanyalah dia oleh wartawan dalam sebuah artikel yang berbentuk tanya jawab. Pertanyaannya kira-kira begitulah. Tentang apa guna seni bagi beliau. Dan dijawablah dalam wawancara itu. Bahwa seni itu harus untuk manusia. Ya, kira-kira seperti yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini jawabannya.

Dan begitulah. Berbulan-bulan, bahkan sampai menahun sejak hari itu. Pertanyaan si wartawan tadi terus menerus mengganggu pikiran saya. Tapi, meski begitu saya tetap saja melakukan aktifitas berkesenian dengan mengikuti apa yang KH. Mustifa Bisri jawab pada pertanyaan itu. Sebab saya juga adalah seniman yang menganggap art for art adalah nonsense. Tanpa bermaksud sok pintar, atau balaga. Sebab apalah saya, seniman yang sama sekali tak punya latar belakang pendidikan formal kesenian. Bahkan kehadiran saya di jagad kesenian pun –dalam hal ini performance art—menjadi sebuah pertanyaan. Terlebih soal konsistensi kekaryaan dan bentukan kekaryaannya sendiri. Meski saya pernah ambil pusing mengenai hal itu, toh kemudian saya tetap keras kepala. Hinga akhirnya beberapa media meliput karya-karya saya. Bahkan kalo boleh berbangga, sepengetahuan saya. Sayalah satu-satunya performer artist muda yang karya performancenya menjadi cover sebuah tabloid mingguan di kota Bandung, meski hanya sebuah tabloid gratisan. Itu juga mungkinkarena fotografernya saja yang sukses mengambil gambar yang keren.

--- loh kenapa tiba-tiba tulisan ini menjadi sedikit keluar dari seharusnya? oke, kita luruskan lagi—

Kembali ke konteks dimula. Saya jadi ingat obrolan saya beberapa tahun kebelakang dengan Kang Arief Yudi dalam sebuah perjalanan pulang dari Kuala Lumpur selepas kami berdua turut serta dalam acara Notthatbalai Art Festival. Dimana? Ya disana, di Kuala Lumpur. Jika tidak salah ingat saat itu aktifitas di JAF masih pada tahap awal. Beliau bercerita tentang apa yang ingin diperbuatnya di kampung halamannya itu. Juga tentang apa-apa saja mimpi beliau bagi komunitas yang sedang dirintisnya itu. Hingga sampai pada kesimpulan akhir pembicaraan bahwa seni itu harus menjadi senjata untuk mensejahterakan masyarakat. Sejahtera disini dalam artian yang sangat luas. Sejahtera pengetahuan, sejahtera jiwa, sejahtera kehidupan, juga tentu saja sejahtera secara kehidupan. Bahwa seni itu harus untuk kehidupan yang lebih baik. Seni harus menjadi alat pemenuhan “dahaga” manusia. Jadi bukan seni untuk seni. Cocok! ini cocok dengan premis saya yang mengatakan non sense untuk art for art. Juga senada dengan apa yang dikatakan KH. Mustofa Bisri yang saya tuliskan dimuka.

Setelahnya. Saya masih tetap berkesenian. Masih keras kepala membuat karya performance art, meski diri ini masih saja diliputi pertanyaan, “what your art are for?”. Parahnya kekeras kepalaan saya mengakibatkan pertanyaan itu menjadi sesederhana, “buat apa kamu makan?” “ya buat memenuhi kebutuhan hidup”. begitulah akhirnya saya memandang kesenian yang saya jalani. Sekedar pemuas “lapar” , atau bisa jadi sekedar “haus tepuk tangan” –meminjam terminologi yang pernah diucapkan Ageng Purna Galih pada saya-. Dan saat itu saya tidak berpikir ada yang salah dengan itu. Sah-sah saja rasanya.

Hingga pada akhirnya saya diundang untuk ikut serta dalam 2nd International Performance Art in Residency yang diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Event –pake “e” bukan pake “i”- performance festival yang didahului dengan proses short residency selama satu minggu. Sebuah performance art festival yang benar-benar baru bagi saya dalam proses penciptaan karya. Setiap seniman yang diundang tidak membawa karya yang sudah jadi. Tapi lebih pada membawa karya “mentah” untuk kemudian di kaitkan dengan konteks lokal di Jatiwangi. Seniman dipaksa berinteraksi dengan masyarakat lokal dengan cara tinggal di rumah penduduk setempat untuk kemudian menggali “potensi” untuk seniman mensinergiskan karya “mentah”nya dengan konteks lokal. Kira-kira seperti itulah prosesnya berlangsung. Yang pada akhirnya saya baru tahu dari Juliana Yasin, bahwa event itu bukan performance art festival tapi lebih sebagai short residency festival.

Yang terjadi pada saya saat itu adalah tinggal dengan seorang petani. Saya datang tanpa tahu akan melakukan apa. Benar-benar mentah. Tapi kemudian pada detik-detik harus mempresentasikan karya, akhirnya bisa juga. Saat itu yang terjadi adalah saya benar-benar menikmati proses “penciptaan” karya. Saat itu saya mengalami membuat karya performance art yang benar-benar “dekat” dengan peristiwa. Mungkin saya terlambat. Banyak seniman yang telah melakukannya. Tapi kalo bicara mengenai diri saya, mungkin ini karya yang benar-benar saya temukan “klik” nya setelah karya Wheel Chair Story . Yang pasti saat itulah karya performance art saya menjadi terasa benar-benar “hidup” tak sekedar “hadir”.

Saat itu untuk ketigakalinya setelah peristiwa membaca wawancara dengan KH.Mustofa Bisri dan perjalanan pulang bersama Kang Arief Yudi. Saya benar-benar yakin bahwa seni itu bukan sekedar seni. Dia tak sekedar “hadir” tapi harus juga “hidup”.

Tapi bukanlah manusia jika imannya tidak “yazidu wa yan kudzu” –naik dan turun--. Setelah itu saya kembali membuat karya yang akhirnya hanya sekedar hadir. Tidak menjadi hidup. Meski untungnya tak sebanyak sebelumnya. Mungkin atas kesadaran bahwa karya itu harus “hidup” bukan sekedar “hadir” akhirnya saya cukup sering menolak undangan untuk performance. Jika meminjamkan istilah Agung Jek tadi malam, saat itu saya tidak ingin menghambur-hamburkan peluru.

Begitulah, sekedar pembuka catatan ini.


***


Karya, dalam pemikiran saya saat ini haruslah bisa hidup. Dia tidak sekedar ada, tidak sekedar menjadi. Tapi harus menciptakan peristiwa. Dia harus meruang, harus hadir sebagai sebuah mesin cetak sejarah. Mungkin bagi beberapa orang sudah. Mungkin juga bagi beberapa orang lainnya terlalu angkuh jika kita memposisikan seni seperti itu. Persetan saya pikir. Bukankah ini sedang membicarakan seni dalam pandangan saya? jadi, terserah saya saja.

---ko jadi terlalu serius?, baelah... –

Saya ingat pertanyaan Muktimukti pada peluncuran buku Kumpulan Puisi Ziarah Kata di GIM, yang mana dalam buku itu salah satu karya puisi saya disertakan.

“Lalu, setelah puisi selesai ditulis, lalu dibukukan, selanjutnya apa?”

“Dibaca”, jawab saya dengan naifnya.

“Setelah dibaca?”

“Orang mengerti”, jawaban naif nomor 2.

“Setelah itu lalu apa? apa gunanya buat orang yang membaca?”

“...”

“Seharusnya seniman itu bisa hadir di kehidupan nyata”, sambungnya

“Dia harus bisa berkontribusi bagi masyarakat, bukan sekedar seni untuk seni. Dia harus ada disana, memposisikan diri disana. Menciptakan persitiwa.”, katanya lagi.

“Bukan sekedar ada, dia juga harus hidup”, sahut saya sambil terus berpikir. Sementara didepan saya Frino Bariarcianur menjadi MC, dan Soge Ahmad murtad jadi fotografer.

Ya, pertanyaan Muktimukti akhirnya menjadi pencongkel nomor empat dalam kegelisahan saya.


***

Semalam, Alinalin Alunalun bercerita pada saya tentang bagaimana seorang Marina Abramovic mempersiapkan karyanya. Konon katanya, 1 bulan sebelum dia mempresentasikan karya performance artnya dia akan melakukan “puasa”. Hingga pada saat performancenya dilakukan dia dalam kondisi benar-benar lapar, dimana katanya dalam keadaan seperti itu keadaan seseorang dengan penciptanya sangatlah dekat –masih kata Alinalin Alunalun–

Begitupun Agung Jek bercerita tentang proses yang akan dilakukannya akhir tahun ini di Hanover, Jerman, untuk membuat satu karya performance dia harus melakukan brainstorming dan riset selama lebih dari 3 bulan lamanya. Hmmm, sementara banyak dari kita yang ketika diundang performance disuatu tempat, sontak saja mengatakan kesediaannya. Meski belum tahu mau bikin apa. Yang penting ada dulu di publikasi. Mungkin saya salahsatunya. Kasihan saya.

Bahkan banyak seniman yang secara kuantitas sangat sedikit membuat karya, tapi masing-masingnya memiliki efek ledak yang dahsyat. Baik secara kualitas kekaryaan, politik ruang, hingga politik waktunya di pikirkan masak-masak dalam sebuah riset yang tajam, dengan premis yang mantap. (hmmm, apa ini?)

Saya teringat juga obrolan saya dengan Frino Bariarcianur di Jatiwangi pada suatu masa.

“Bang, kapan bikin performance lagi?”, tanya saya

“Saya belum tahu mau bikin apa lagi”, jawabnya datar

“Wah, sayang bang. Padahal karya jalan mundur itu nampol banget bang!”

“Justru karena itu ngga, sy belum bisa lagi bikin karya semacam itu. Semacam trauma saya ngga. Sebab selepas performance it say ga bisa jalan normal sampai 3 hari lamanya.”, Frino mengaburkan jawaban seakan enggan menjawab dengan sejujurnya. Meski akhirnya saya hanya bisa menebak-nebak saja apa yang ada dikepalanya. bahwa dia sedang mempersiapkan karya monumental selanjutnya.

Saya ingat lagi pada obrolan dengan Muktimukti dalam acara peluncuran buku itu.

“Mungkin karyanya ga akan pernah selesai-selesai ngga, tapi catatan kakinya sudah banyak menyimpan peristiwa.”

“Ya, begitulah seharusnya karya seni”, saya pikir

“Dia harus HIDUP! bukan sekedar hadir”, teriak saya dalam hati.


***

Semalam, akhirnya saya utarakan pada AgungJek dan Alinalin Alunalun soal kegelisahan ini. Jawabannya adalah saya membatalkan keikutsertaan saya dalam performance art event yang akan dibuat pada tanggal 29 Mei ini di Pusat kebudayaan Cigondewah milik Tisna Sanjaya. Bukan karena saya tak tahu mau bikin apa. Tapi mungkin lebih pada pertanyaan. “Lalu setelah performance saya di presentasikan apa?”. Juga selain lebih baik saya berkonsentrasi pada apa yang akan saya lakukan di Jatiwangi tanggal 24 Juni – 9 Juli 2010 di acara Jatiwangi Art Residency Festival 2010 yang akan diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Komunitas seni yang mengajarkan banyak hal pada saya.


***


Akhirnya, jika Aminudin T.H. Siregar –kalo ga salah-- dalam sebuah harian mengatakan bahwa sebelum menjadi performer artis, hendaknya seniman belajar menggambar dulu. Saya berkata kemudian. Sebelum mebuat karya seni hendaknya seseorang belajar hidup dulu.

Ah, ngelantur saya. Kayak orang yang ngerti seni saja.

Yang pasti, saya sedang menceritakan saya. Bukan siapa-siapa. Jadi, kalo ada yang tersinggung, itu bukan urusan saya. Wong saya sedang menceritakan saya, bukan siapa-siapa.



Citeureup, 15 Mei 2010
anggawedhaswhara

Wednesday, November 04, 2009

...

aku tak pernah merasa sebahagia
selain saat kau tertawa dan bersamamu...

aku tak pernah merasakan kedamaian
melebihi yang kau berikan saaat menyayangi aku...

(FAJAR ABADI)

Monday, October 19, 2009

CATATAN RINDU DARI DIES EMAS FAPERTA UNPAD

Mentari menyala disini
Disini didalam hatiku
Gemuruh api nya disini
Disini diurat darahku


Sore itu hujan lebat mengguyur kota Bandung, hujan yang sekejap sempat mengurungkan niat saya mengarahkan kemudi ke Jatinangor, bagian kota kecil dimana Pangeran Kornel pernah menyalami Deandles dengan tangan kirinya seraya tangan kanan menggengggam kepala keris. Untunglah seorang Achdya Kusuma yang baik hati tak sedikitpun ragu menjemput saya untuk melanjutkan perjalanan yang sempat saya urungkan.

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang mampu menghalangimu
Menyala di dalam hatiku...


Ya, sore itu di Jatinangor tengah berlangsung perhelatan Dies Natalies 50th Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Entah apa sesungguhnya yang menguatkan niat saya berkunjung kesana. Meski saya tak terlalu yakin akan ada kawan-kawan satu angkatan saya yang hadir disana. Tapi, takdir takkan mengubah ketentuannya akan hal ini. Sore itu tepal pukul 5 saya menginjakan kaki di kampus itu lagi, kampus yang lama tak saya sambangi, kampus yang memberi arti besar dalam kehidupan saya. Kampus yang telah mengajarkan tentang arti kebersahajaan. Kampus yang telah memberikan takdir jodoh juga pada saya. Kampus yang hari ini telah berubah menjadi kampus yang cantik, sehingga basahnya air hujan menjadikan langit sore itu tampak manis sekali.

Walhasil berjumpalah saya dengan Fikri Rabbani yang ternyata masih setia menanti senja yang lembut di Jatinangor, kemudian saya bertemu Budian Sahala dan Jacko, kawan-kawan muda yang tampaknya masih betah di kampus yang telah menjadi sangat berbeda itu. Berbincanglah kita tentang kerinduan dan kabar-kabar, sebuah sapa yang berkesan basa basi tapi bermakna besar ketika terucapkan sore itu. Tak lama dari kedatangan saya, Abah Iwan Abdurrahman datang seorang diri saja. Tumben.

“Damang bah?”, sapa saya pada Abah sembari bersalaman

“Alhamdulillah”, jawabnya dengan keramahan yang sama

“Teu sareng Kang Eric?”, tanya saya lanjut, sebab biasanya Abah hadir bersama kang Eric Martialis.

“Henteu, Kang Eric tos tipayun... “ begitu jawab Abah sembari mengisi buku tamu lalu dilengan kanannya disematkan pita berwarna hijau.

“Abah tipayun nya ngga, tos diantosan diluhur...”, sembari menunjuk gedung Dekanat.

“Mangga bah”, jawab saya yang tengah direcoki marketing kartu kredit berkedok kartu alumni Unpad.

“Maaf mbak, tapi saya ga suka pake kartu kredit. Riba mbak, riba.”, jawab saya pada si mbak berkerudung yang telah berbicara panjang lebar.

Dengan pita hijau tersemat dilengan kanan dan nametag tergantung didada pemberian kawan-kawan 2009 saya bergegas menuju gedung 5. Ya, gedung 5. Gedung yang telah menghisap sebagian besar hidup saya di Jatinangor. Ditangga gedung itu menuju plasa, sekilas tampak bayangan 3-8 tahun yang lalu. Bayangan kawan-kawan menjuari Sepak Bola Ria, bayangan Kawan-kawan Kotakhijau berdiskusi tentang apa saja, juga bayangan kebersamaan dan rindu yang dimuntahkan dalam kilasan-kilasan foto masa silam. Hmm... senja itu untuk pertamakalinya saya bersama Fikri Rabbani merasakan nostalgia yang mesra.

Magrib dikejauhan terdengar lamat-lamat tepat disaat saya berjumpa dengan Jiun, Opik, Ebes, Gelar, dan beberapa kawan-kawan The Docs yang dikomandoi Eri Mochtar. Hmm... Nostalgia tercipta lagi... pertanyaannya masih sama tentang kabar dan kabar yang sama sekali tak terdengar basa-basi, bahkan lebih terkesan sapaan rindu yang dalam. Lalu berkenalanlah saya dengan anak muda bernama Goro seorang wakil ketua Himagro yang mengajak saya berbincang pendek tentang Food Not Bomb, lalu Food For Resistance. Sore itu bergeser dari obrolan rindu menjadi persoalan pangan yang runyam. Persoalan pangan yang tak kunjung usai, meski 50 tahun sudah Fakultas Pertanian Unpad dengan gagah berdiri di tanah pertiwi ini. Hmm... romantisme menjadi paradoks yang runyam. Hingga tercetus janji saya untuk berbagi dengan lebih panjang persoalan ini pada kawan-kawan Himagro. Tanpa ragu sedikitpun, sore itu dengan diiringi kumandang adzan saya memberikan kartu nama saya pada Goro sebagai pertanda saya siap kapan saja untuk diajak berdiskusi tentang apa saja.

Selepas menunaikan solat maghrib lalu saya jumpai Nonon ada disana juga, kemudian Budidaya Unpad 2001 menjadi 3 oranglah sore itu. Dengan ditemani sajian makan malam, saya, Fikri, dan Nonon kemudian berbicara tentang segala ditemani Pak Ranu, Pak Nana, dan Pak Ading. Tiga orang lelaki yang memiliki jasa cukup besar bagi kawan-kawan mahasiswa Fakultas Pertanian dia era saya, bahkan konon sampai hari ini. Jika boleh saya mengutip istilah Abah Iwan Abdurrahman mereka inilah “Akar”. Ya, mereka inilah akar pohon-pohon yang banyak dilupakan, tersembunyi dari cerita atau lagu. Jangankan lagu, bahkan tiada orang peduli. Akar. Ya, merekalah akar itu.

Pertemuan menjadi semakin besar, oleh kedatangan Gari dan Sulis, dan ketika kita bergerak menuju gedung 5 kembali kita disambut oleh Sofi dan suami, lalu ada Didiet ’99, Yayu ’99 dan Salman anak mereka . Wow, rindu bertambah menjadi besar. Konon Hawari, Agah, Vidi, Hilmi, dan Kholid akan menyusul, kelimanya angkatan ’99.

Akhirnya panggilan MC di plasa mengiring kita berjalan menuju plasa yang telah ramai terisi orang-orang. Ya, orang-orang yang menyimpan rindu yang sama pada almamaternya. Di plasa itulah akhirnya kami berjumpa dengan Riza Rinjani ’98 yang sekarang telah memiliki karir yang cukup cemerlang di sebuah bank besar tanah air. Obrolan tak terlalu panjang sebab dinginnya Jatinangor malam itu menarik kami untuk menikmati segelas kopi yang disediakan di ruang dekanat. Dengan diiringi segelas kopi pahit dan teh manis, bincang-bincang dengan kawan-kawan ‘99 berlangsung lebih intim. Hingga setelah cukup hangat kami kembali ke plasa untuk menikmati acara yang dinanti-nanti, yaitu pertunjukan GPL (Grup Pecinta Lagu) Unpad yang menjadi legenda.

Sebelum pertunjukan GPL, dipanggung MC mendulat dua orang angkatan pertama Faperta Unpad, keduanya kini menjadi dosen Faperta Unpad. Mereka memberikan Orasi Kilas Balik 50 tahun Faperta Unpad yang oleh keduanya diplesetkan menjadi “orasiap” karena konon mereka tidak mempersiapkan apa-apa untuk obrolan malam ini. Walhasil orasi kilas balik yang biasanya menjemukan menjadi sangat cair dan segar. Hatur nuhun Kang eceu ’59 yang telah mengingatkan kita untuk terus bersyukur bahwa hari ini ilmu sangat mudah diperoleh. Tak sesulit di era mereka. Salut saya buat mereka, angkatan pertama, yang menjaid cikal bakal kebersamaan yang tertanam hingga 50 tahun Faperta berdiri.

Akhirnya MC mempersilahkan GPL yang dikomandani Abah Iwan untuk naik ke atas pentas. Sebelumnya ada grup Vokal Grup Faperta Unpad, yang membawakan lagu Manuk Dadali yang sepertinya cukup untuk memanaskan malam yang terasa semakin dingin. Malam itu GPL tampil dengan personil yang hampir lengkap, bahkan Aom Kusman yang akrab disapa Unang oleh kawan-kawannya pun hadir malam itu. Sungguh sebuah penampilan yang sepertinya akan monumental. Sebelum GPL bernyanyi, Abah Iwan memanggil dulu Kang Aat Suratin untuk menyampaikan pembuka. Seperti dalam kebiasaan acara yang dibuka Aat Suratin, malam ini pun Lagu Indonesia Raya membuka pertunjukan dengan sangat khidmat, setelahnya Kang Aat berkisah tentang GPL.

GPL membuka pertunjukan dengan sebuah folksong yang sepertinya dari timur tengah yang saya pernah dengar dari kaset rekaman yang 3 tahun lalu diberikan kang Eric Martialis pada saya dan kawan-kawan _sindikat semutmerah yang saat itu membuat video profil Universtias Padjadjaran. Lagu kedua adalah sebuah lagu perang yang saya duga masih sebuah folksong dari timur tengah, dengan tempo yang menghentak cukup membuat kita berdendang dan menimbulkan semangat yang mantap malam itu.

Setelahnya Kang Iwan menyanyikan sebuah lagu pendek yg saya dengar pertamakali dimalam “Boykot” PAM 2002. Liriknya seperti ini,
KMFP my unique one/Please tell me where your home/My home it sit’s in priangan/It’s made of wood and stone.Sebuah lagu yang membuat saya ingin membuat rumah yang terbuat dari kayu dan batu untuk membesarkan anak-anak saya juga ruang pertemuan saya dengan kawan-kawan untuk berbuat yang berarti bagi masyarakat.

Lagu yang katanya lagu penutup adalah lagu MENTARI yang sengaja dipersembahkan bagi kawan-kawan mahasiswa agar tetap memiliki semangat seterang matahari. Khususnya lirik yang dinyanyikan berulang.

Hari ini hari milikmu
juga esok masih terbentang
dan mentari kan tetap menyala disini diurat darahmu


Lagu ini sengaja oleh saya dijadikan pembuka tulisan ini. Sebab lagu inilah yang cukup memberi semangat bagi saya untuk tetap bertahan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran khususnya setelah peristiwa Boykot PAM 2002. Lagu ini konon diciptakan ketika terjadi pendudukan kampus Dipatiukur oleh militer ketika akhir kejayaan orde lama. Dari sejak diperdengarkan pertamakali hingga hari ini lagu Mentari terus memberikan semangat yang berarti bagi hidup saya hingga kini.

Mentari menyala disini
Disini didalam hatiku
Gemuruh api nya disini
Disini diurat darahku

Hmm,akhirnya pertunjukan harus usai juga. Dinyanyikanlah satu lagu setelah endcore. Lagu “Almamater” lah yang dinyanyikan sebagai penutup yang merupakan lagu favorit Profesor Ganjar Kurnia ,Rektor Unpad saat ini yang merupakan lulusan Fakultas Pertanian. Yang seperti diutarakan Abah Iwan lagu ini telah menjadi sakral bagi mereka, dan kita semua.

Kan kutunjukan padamu
Kan kubuktikan padamu
Rasa bangga dan baktiku Almamater

Meski telah jauh darimu
Meski kau kutinggalkan
Rasa bangga ku padamu almamater

Dengan lindungan Tuhanku
Dengan semangat darimu
Ku akan selalu berjuang, almamater


Hadirin meletakkan tangan kanan di dada kiri nya sembari malantunkan lagu itu. Setelahnya riuh semangat dan Standing Aplaouse dipersembahkan tak hanya bagi GPL yang tampil dahsyat malam itu, khususnya bagi Almamater kita Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Selamat Ulang Tahun Emas Fakultas Pertanian, rasa bangga dan baktiku untukmu.

Kini saya tahu, apa yang menguatkan niat saya untuk menghadiri Dies Natalies Emas Faperta Unpad.

Rasa bangga dan baktiku Almamater.

Monday, July 27, 2009

tentang kalung mutiara imitasi itu

kamu sudah ceritakan tetang kalung mutiara imitasi itu... dan sekaranglah mungkin saatnya kmu peroleh kalung mutiara aslimu... percayalah... sebab Tuhan tidak pernah bermain dadu...

Monday, July 20, 2009

kidung 3.1

dara yang baik... tidurlah... sebab esok kau harus bangun pagi menemui mataharimu... nanti kalo sempat dan kamu tak terlalu lelah... temui aku di bukit bunga dibalik bula...

tabik,
celeng

DINDA DIMANA - Katon Bagaskara



kala senja, aku mereka-reka rencana...

Efek Samping

Kalau di tilik-tilik, pada kisaran tahun 1999-2003/2004 kondisi keimanan saya lumayan canggih. Saat itu merasa siap mati. Sy tidak khawatir, karena sy menganggap Allah benar-benar dekat, entah sebagai Sahabat untuk berbagi, atau sebagai Tuhan.

Dan diatas tahun itu, yang ada hanyalah radikalisme pemuda, radikalisme ideologi, keinginan untuk eksis dan berkoar-koar, berkobar. Sy masih ‘malu’ untuk mengakui bahwa di dalam diri sy terdapat keinginan untuk ‘terlihat’ become a famous idol of resistance, sementara hati kecil ini sy borgol, sy sudutkan.

“Manusia memang membutuhkan pengakuan,” ucap seseorang yang nafasnya bau Gudang Garam.

Perkataan kawan saya itu memang manis, terasa renyah, kelihatan bijak. Tapi renyah, manis, bijak dari sudut pandang apa? Jika tak menyebabkan datangnya rahmat dan pahala, untuk apa?

Kita mungkin pernah mendengar, bahwa ujian pertama orang-orang besar bukanlah diosol-osol, diadu-adu, tetapi disanjung-sanjung sampai tinggi sampai tak bisa bernafas lagi, karena jiwa ini terbang jauh menuju atmosfer. Karena jiwa ini melayang tinggi membuat sesak.

Tak baik, tak boleh. Sy bukan orang besar. Sy hanya orang kecil yang berusaha untuk membakar keinginan akan semerbaknya sebuah nama. Karenanya, kini, sy berusaha tak peduli dengan ‘eksibionisme’ secular mengenai manusia harus eksis secara total.

Dalam konsep sy yang sekarang: eksis itu tidak berharga apabila pencapaiannya diawali, dilalui oleh keinginan untuk menjadi eksis. Eksis itu harus muncul alamiah. Harus muncul dari valensi. Karena valensi (menjadi terkenal karena usaha, bakat, karena kecedasan, skill) itu merupakan efek samping. Bukan tujuan. Tapi efek samping.

Diposkan oleh Divan Semesta Jumat, 2009 Juni 26 di http://divansemesta.blogspot.com/2009/06/efek-samping.html

notes: ini adalah catatan yang saya curi dari blognya Divan Semesta, maklum sedang buntu menulis... tapi kurang lebih seperti inilah yg ada dikepala saya akhir-akhir ini... terimakasih Divan sudah mengingatkan... semoga Allah dan para Syuhada senantiasa bersama kita...

Kidung 3.0

dara yang baik. kamu tahu bener apa yg aku pilih. namun bila itu gagal bukan berarti kita tidak pernah berusaha sampai titik darah penghabisan... dukaku, adalah dukamu yang tertusuk ilalang...

tabik,
anak babi

Monday, July 13, 2009

kidung 2.4

Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS.Al-Baqarah:216)

Friday, July 10, 2009

kidung 2.3

kamu bilang bahwa tak ada yg harus disesali...
doakan bahwa masih ada esok pagi untuk kita dara...

Thursday, July 09, 2009

aku pulang

:dara

akhirnya siang itu aku memutuskan untuk pulang...
sebab disanalah Tuhan meletakkan surgaku...
tepat dikaki bundaku..

siang itu, aku pasrahkan jiwa meski terluka..
sebab dikakinyalah tempat pertemuan kita selanjutnya...


celeng

Tuesday, July 07, 2009

untitled no 183

diam-diam mataku bocor persis seperti matamu pagi tadi...

Wednesday, July 01, 2009

Kidung 2.2



saat FAJAR ABADI menyanyikan lagu ini di Jatiwangi Art Festival 2008, aku mengingatmu.. tapi tak kuasa menjumpaimu...

Related Posts with Thumbnails