welcome itu selamat datang
di blog anggawedhaswhara
untuk mengunjungi websitenya,
silahkan scan QR-Code berikut

whatyourart

enter itu masuk
Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

Monday, August 16, 2010

CATATAN PENDEK 15 AGUSTUS 2010

Infotaintment 1

:Syahrini

Tidakkah kau sadari? bahwa sesungguhnya perselingkuhan Krisdayanti telah menjadi berkah melimpah untukmu. Berterimakasihlah padanya cantik.

15 Agustus 2010


Newsticker 1 : Pramuka

:SBY

Apakah Bapak berpikir kalo pramuka itu hampir serupa tabung gas, harus distandarisasi dan disertifikasi? Pramuka itu soaljiwa, bukan soal sertifikat dan standar kelayakan. Soal pramuka biar Circle K, Indomaret, KFC,Mc Donald, dan telpon selular yang urus. Persis seperti Jambore Nasional di Kiara Payung tempo hari.

15 Agustus 2010


Infotaintment 2

:KD

Melihat konferensi pers mu di TV, aku malah jadi menduga-duga, kalo kamu lebih butuh bodyguard daripada seorang suami dan anak-anak yang mencintaimu. Maaf.

15 Agustus 2010


Newsticker 2 : Kapolri lari

:SBY

Bapak tentu lebih paham apa yang sedangterjadi. Tapi buat saya ini cukup menyebalkan. Tak cuman Anggota Dewan yang terhormat mampu membolos kerja, ternyata Kapolri pun begitu. Kalo sudah begitu saya jadi ingat apa kata orang tua saya dahulu. Jadi keamanan teh kalahkah amankeuneun!

15 Agustus 2010


Newsticker 3 : Mesjid di Ground Zero USA

:Obama

Apakah kamu pikir dengan merestui pendiria mesjid disana bisa mengembalikan nyawa jutaan manusia di Afganistan dan Irak yang negaramu invasi dengan dalih pemberantasan terorisme?. Jangan sembarangan, tuduhanmu itu telah menyebabkan seorang guru ngaji di negeri kami berurusan dengan kerangkeng penjara. Jika sudah begitu, apakah kamu bisa menghentikan apa yang kau sebut terorisme. Alilh-alih mengatasi kau malah sedang melahirkan teroris-teroris baru. Dan jika teroris-teroris yang kau maksud adalah orang-orang yang berjuang dijalan Tuhanny demi mencari kemerdekaan yang sebenarnya, maka aku deklarasikan keterorisanku hari ini. Sambil berdoa bahwa semesta dalam perut istriku kelak menjadi teroris juga.

15 Agustus 2010

Wednesday, May 19, 2010

WHAT YOUR ART ARE FOR?


seni itu untuk kehidupan,
dia harus bisa memanusiakan manusia.
jika seni untuk seni (art for art), untuk apa?
mungkin itu sama seperti makan untuk makanan.


Ya, what your art are for?

Pertanyaan ini terus mengganggu keseharian sejak beberapa tahun terakhir ini. Mungkin sejak 2006 atau 2007. Saya, lupa pastinya. Yang jelas sejak saya membaca wawancara disalah satu harian terkemuka dengan KH. Mustofa Bisri. Ditanyalah dia oleh wartawan dalam sebuah artikel yang berbentuk tanya jawab. Pertanyaannya kira-kira begitulah. Tentang apa guna seni bagi beliau. Dan dijawablah dalam wawancara itu. Bahwa seni itu harus untuk manusia. Ya, kira-kira seperti yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini jawabannya.

Dan begitulah. Berbulan-bulan, bahkan sampai menahun sejak hari itu. Pertanyaan si wartawan tadi terus menerus mengganggu pikiran saya. Tapi, meski begitu saya tetap saja melakukan aktifitas berkesenian dengan mengikuti apa yang KH. Mustifa Bisri jawab pada pertanyaan itu. Sebab saya juga adalah seniman yang menganggap art for art adalah nonsense. Tanpa bermaksud sok pintar, atau balaga. Sebab apalah saya, seniman yang sama sekali tak punya latar belakang pendidikan formal kesenian. Bahkan kehadiran saya di jagad kesenian pun –dalam hal ini performance art—menjadi sebuah pertanyaan. Terlebih soal konsistensi kekaryaan dan bentukan kekaryaannya sendiri. Meski saya pernah ambil pusing mengenai hal itu, toh kemudian saya tetap keras kepala. Hinga akhirnya beberapa media meliput karya-karya saya. Bahkan kalo boleh berbangga, sepengetahuan saya. Sayalah satu-satunya performer artist muda yang karya performancenya menjadi cover sebuah tabloid mingguan di kota Bandung, meski hanya sebuah tabloid gratisan. Itu juga mungkinkarena fotografernya saja yang sukses mengambil gambar yang keren.

--- loh kenapa tiba-tiba tulisan ini menjadi sedikit keluar dari seharusnya? oke, kita luruskan lagi—

Kembali ke konteks dimula. Saya jadi ingat obrolan saya beberapa tahun kebelakang dengan Kang Arief Yudi dalam sebuah perjalanan pulang dari Kuala Lumpur selepas kami berdua turut serta dalam acara Notthatbalai Art Festival. Dimana? Ya disana, di Kuala Lumpur. Jika tidak salah ingat saat itu aktifitas di JAF masih pada tahap awal. Beliau bercerita tentang apa yang ingin diperbuatnya di kampung halamannya itu. Juga tentang apa-apa saja mimpi beliau bagi komunitas yang sedang dirintisnya itu. Hingga sampai pada kesimpulan akhir pembicaraan bahwa seni itu harus menjadi senjata untuk mensejahterakan masyarakat. Sejahtera disini dalam artian yang sangat luas. Sejahtera pengetahuan, sejahtera jiwa, sejahtera kehidupan, juga tentu saja sejahtera secara kehidupan. Bahwa seni itu harus untuk kehidupan yang lebih baik. Seni harus menjadi alat pemenuhan “dahaga” manusia. Jadi bukan seni untuk seni. Cocok! ini cocok dengan premis saya yang mengatakan non sense untuk art for art. Juga senada dengan apa yang dikatakan KH. Mustofa Bisri yang saya tuliskan dimuka.

Setelahnya. Saya masih tetap berkesenian. Masih keras kepala membuat karya performance art, meski diri ini masih saja diliputi pertanyaan, “what your art are for?”. Parahnya kekeras kepalaan saya mengakibatkan pertanyaan itu menjadi sesederhana, “buat apa kamu makan?” “ya buat memenuhi kebutuhan hidup”. begitulah akhirnya saya memandang kesenian yang saya jalani. Sekedar pemuas “lapar” , atau bisa jadi sekedar “haus tepuk tangan” –meminjam terminologi yang pernah diucapkan Ageng Purna Galih pada saya-. Dan saat itu saya tidak berpikir ada yang salah dengan itu. Sah-sah saja rasanya.

Hingga pada akhirnya saya diundang untuk ikut serta dalam 2nd International Performance Art in Residency yang diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Event –pake “e” bukan pake “i”- performance festival yang didahului dengan proses short residency selama satu minggu. Sebuah performance art festival yang benar-benar baru bagi saya dalam proses penciptaan karya. Setiap seniman yang diundang tidak membawa karya yang sudah jadi. Tapi lebih pada membawa karya “mentah” untuk kemudian di kaitkan dengan konteks lokal di Jatiwangi. Seniman dipaksa berinteraksi dengan masyarakat lokal dengan cara tinggal di rumah penduduk setempat untuk kemudian menggali “potensi” untuk seniman mensinergiskan karya “mentah”nya dengan konteks lokal. Kira-kira seperti itulah prosesnya berlangsung. Yang pada akhirnya saya baru tahu dari Juliana Yasin, bahwa event itu bukan performance art festival tapi lebih sebagai short residency festival.

Yang terjadi pada saya saat itu adalah tinggal dengan seorang petani. Saya datang tanpa tahu akan melakukan apa. Benar-benar mentah. Tapi kemudian pada detik-detik harus mempresentasikan karya, akhirnya bisa juga. Saat itu yang terjadi adalah saya benar-benar menikmati proses “penciptaan” karya. Saat itu saya mengalami membuat karya performance art yang benar-benar “dekat” dengan peristiwa. Mungkin saya terlambat. Banyak seniman yang telah melakukannya. Tapi kalo bicara mengenai diri saya, mungkin ini karya yang benar-benar saya temukan “klik” nya setelah karya Wheel Chair Story . Yang pasti saat itulah karya performance art saya menjadi terasa benar-benar “hidup” tak sekedar “hadir”.

Saat itu untuk ketigakalinya setelah peristiwa membaca wawancara dengan KH.Mustofa Bisri dan perjalanan pulang bersama Kang Arief Yudi. Saya benar-benar yakin bahwa seni itu bukan sekedar seni. Dia tak sekedar “hadir” tapi harus juga “hidup”.

Tapi bukanlah manusia jika imannya tidak “yazidu wa yan kudzu” –naik dan turun--. Setelah itu saya kembali membuat karya yang akhirnya hanya sekedar hadir. Tidak menjadi hidup. Meski untungnya tak sebanyak sebelumnya. Mungkin atas kesadaran bahwa karya itu harus “hidup” bukan sekedar “hadir” akhirnya saya cukup sering menolak undangan untuk performance. Jika meminjamkan istilah Agung Jek tadi malam, saat itu saya tidak ingin menghambur-hamburkan peluru.

Begitulah, sekedar pembuka catatan ini.


***


Karya, dalam pemikiran saya saat ini haruslah bisa hidup. Dia tidak sekedar ada, tidak sekedar menjadi. Tapi harus menciptakan peristiwa. Dia harus meruang, harus hadir sebagai sebuah mesin cetak sejarah. Mungkin bagi beberapa orang sudah. Mungkin juga bagi beberapa orang lainnya terlalu angkuh jika kita memposisikan seni seperti itu. Persetan saya pikir. Bukankah ini sedang membicarakan seni dalam pandangan saya? jadi, terserah saya saja.

---ko jadi terlalu serius?, baelah... –

Saya ingat pertanyaan Muktimukti pada peluncuran buku Kumpulan Puisi Ziarah Kata di GIM, yang mana dalam buku itu salah satu karya puisi saya disertakan.

“Lalu, setelah puisi selesai ditulis, lalu dibukukan, selanjutnya apa?”

“Dibaca”, jawab saya dengan naifnya.

“Setelah dibaca?”

“Orang mengerti”, jawaban naif nomor 2.

“Setelah itu lalu apa? apa gunanya buat orang yang membaca?”

“...”

“Seharusnya seniman itu bisa hadir di kehidupan nyata”, sambungnya

“Dia harus bisa berkontribusi bagi masyarakat, bukan sekedar seni untuk seni. Dia harus ada disana, memposisikan diri disana. Menciptakan persitiwa.”, katanya lagi.

“Bukan sekedar ada, dia juga harus hidup”, sahut saya sambil terus berpikir. Sementara didepan saya Frino Bariarcianur menjadi MC, dan Soge Ahmad murtad jadi fotografer.

Ya, pertanyaan Muktimukti akhirnya menjadi pencongkel nomor empat dalam kegelisahan saya.


***

Semalam, Alinalin Alunalun bercerita pada saya tentang bagaimana seorang Marina Abramovic mempersiapkan karyanya. Konon katanya, 1 bulan sebelum dia mempresentasikan karya performance artnya dia akan melakukan “puasa”. Hingga pada saat performancenya dilakukan dia dalam kondisi benar-benar lapar, dimana katanya dalam keadaan seperti itu keadaan seseorang dengan penciptanya sangatlah dekat –masih kata Alinalin Alunalun–

Begitupun Agung Jek bercerita tentang proses yang akan dilakukannya akhir tahun ini di Hanover, Jerman, untuk membuat satu karya performance dia harus melakukan brainstorming dan riset selama lebih dari 3 bulan lamanya. Hmmm, sementara banyak dari kita yang ketika diundang performance disuatu tempat, sontak saja mengatakan kesediaannya. Meski belum tahu mau bikin apa. Yang penting ada dulu di publikasi. Mungkin saya salahsatunya. Kasihan saya.

Bahkan banyak seniman yang secara kuantitas sangat sedikit membuat karya, tapi masing-masingnya memiliki efek ledak yang dahsyat. Baik secara kualitas kekaryaan, politik ruang, hingga politik waktunya di pikirkan masak-masak dalam sebuah riset yang tajam, dengan premis yang mantap. (hmmm, apa ini?)

Saya teringat juga obrolan saya dengan Frino Bariarcianur di Jatiwangi pada suatu masa.

“Bang, kapan bikin performance lagi?”, tanya saya

“Saya belum tahu mau bikin apa lagi”, jawabnya datar

“Wah, sayang bang. Padahal karya jalan mundur itu nampol banget bang!”

“Justru karena itu ngga, sy belum bisa lagi bikin karya semacam itu. Semacam trauma saya ngga. Sebab selepas performance it say ga bisa jalan normal sampai 3 hari lamanya.”, Frino mengaburkan jawaban seakan enggan menjawab dengan sejujurnya. Meski akhirnya saya hanya bisa menebak-nebak saja apa yang ada dikepalanya. bahwa dia sedang mempersiapkan karya monumental selanjutnya.

Saya ingat lagi pada obrolan dengan Muktimukti dalam acara peluncuran buku itu.

“Mungkin karyanya ga akan pernah selesai-selesai ngga, tapi catatan kakinya sudah banyak menyimpan peristiwa.”

“Ya, begitulah seharusnya karya seni”, saya pikir

“Dia harus HIDUP! bukan sekedar hadir”, teriak saya dalam hati.


***

Semalam, akhirnya saya utarakan pada AgungJek dan Alinalin Alunalun soal kegelisahan ini. Jawabannya adalah saya membatalkan keikutsertaan saya dalam performance art event yang akan dibuat pada tanggal 29 Mei ini di Pusat kebudayaan Cigondewah milik Tisna Sanjaya. Bukan karena saya tak tahu mau bikin apa. Tapi mungkin lebih pada pertanyaan. “Lalu setelah performance saya di presentasikan apa?”. Juga selain lebih baik saya berkonsentrasi pada apa yang akan saya lakukan di Jatiwangi tanggal 24 Juni – 9 Juli 2010 di acara Jatiwangi Art Residency Festival 2010 yang akan diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Komunitas seni yang mengajarkan banyak hal pada saya.


***


Akhirnya, jika Aminudin T.H. Siregar –kalo ga salah-- dalam sebuah harian mengatakan bahwa sebelum menjadi performer artis, hendaknya seniman belajar menggambar dulu. Saya berkata kemudian. Sebelum mebuat karya seni hendaknya seseorang belajar hidup dulu.

Ah, ngelantur saya. Kayak orang yang ngerti seni saja.

Yang pasti, saya sedang menceritakan saya. Bukan siapa-siapa. Jadi, kalo ada yang tersinggung, itu bukan urusan saya. Wong saya sedang menceritakan saya, bukan siapa-siapa.



Citeureup, 15 Mei 2010
anggawedhaswhara

Tuesday, June 30, 2009

menjadi mustika

kamulah yang pertama menunjukkan mustika itu padaku. aku ingat benar malam itu. diatas sofa putih yang akan aku rindukan. meski lentera padam malam itu, tapi aku bisa mencium harumnya dengan yakin. dan malam itu kamu memberikannya padaku. mustika itu telah kau simpan dalam-dalam. kau rawat, kau mandikan, dan kau simpan dalam lemari kaca agar terhindar dari debu. padahal aku yakin bukan debu yang kau hindari, tapi tangan-tangan jahil yang menginginkannya.

malam ini tiba-tiba aku ingin menjadi mustika itu.

Tuesday, June 23, 2009

pesan

senja itu celeng mengirim pesan pada dara "its happen for a reason, but its hard for me to find it.... ga sama2 kamu itu aku kacau... makan siang aja sampe sekarang belum...".. dan dara tak membalasnya...

Tuesday, April 14, 2009

Neng Nurul jeung Bubur Mang Odon

Isuk harita kuring inget boga jangji jeung Neng Nurul, rek ngajak manehna jajan bubur Mang Odon hareupeun Stasion Andir. Cag, kuring nelpon langsung ka manehna. Kusabab ieu jangji teh geus leuwih ti 2 minggu. Sanajan panon tunduh jeung awak rada sing sariak kuring maksakeun jang nyumponan jangji ka manehna.

"Bisa bicara dengan Nurul", ceuk kuring balaga make basa Indonesia sagala. Jeung pan kuring teh nelepon kana henpon, geus barang tangtu manehna nu ngangkat. Tapi bisa oge lain.

"Sareng saha nya?" sora Neng Nurul halimpu kadengena.

"Sareng aa.."

"oh, muhun a.. kumaha? kamari tos katampi tacan uleman teh? punten teu ngantosan heula, da ata geuningan pun biang tos neleponan wae, hawatos sapertosna mah. umaha aa tiasa sumping? moal sesah da a tempatna mah. sanes aa tipayun kantos ngajajap eneng kaditu panan?", ceuk Neng Nurul terus we baceo jiga nu teu make ngarenghap.

Puguh we kuring bingung, sok kuring nanya ka anjeuna.

"uleman saha? tempat naon? ngajajap kamana?"

"hhh?"

"muhun neng, aa teu ngartos yeuh.."

"na ieu sareng a rahmat sanes?"

"beu, ieu mah sareng a dudung neng..."

"ah, sia dudung! kehed! sugan teh saha?! babalagaan make aa sagala.. naon?! isuk-isuk geus nelepon kuring..", sora neng nurul dumadak jadi ngagoak. galak.

"naha teu meunang kitu kuring nelepon?", kuring teu eleh geleng ku manehna.

"nya henteu... asa araraheng we, isuk-isuk kieu maneh nelepon... aya naon?" sora neng nurul ngalaunan ditungtungna.

"adeuk moal dahar bubur teh? buru geura hudang. kuring jemput hareupeun imah ayeuna. buru. tong nepi kuring kudu nungguan lila"

******

kacaritakeun kuring jeung neng nurul geus nepi di tukang bubur.

"bubur naon?", tanya kuring teu penting pisan.

"nya bubur hayam lah.. emang aya bubur kacang didieu? ataw bubur kertas meureun aya nya?", ceuk neng nurul rada calutak.

"maksad aa teh, ingkang rayi palay bubur naon? spesial? telor? ati ampela? atanapi biasa?"

"pami sia?"

"eta nyarios neng... ulang ngangge "sia" atuh.. aa, kituh..."

"enya... aa.. aa sia.. hehe", ceuk neng nurul bari nyerengeh.

"eta nya... awon neng.. bade naon atuh?", kuring rada ngelemesan.

"nya, eta wehlah.. bubur kertas.. tong lada teuing..."

"nya! montong dihereuykeun.....", ceuk kuring rada ambek.

"mangga atuh, bubur hayam ati ampela tong dimangkokan mang", ceuk neng nurul bari noel ka nu dagang.

"abi ge mang... tong dibuburan..", ceuk kuring kagok edan.

si emang ngan saukur seuri we. maklum, da kuring geus biasa dahar bubur didinya. kitu oge neng nurul. ngan can pernah babarengan saacanna, ieu mimiti pisang kuring dahar bubur mang odon paduduaan jeung awewe. nya katempo Mang odon ge rada aheng nempo kuring sakitu akrabna jeung neng nurul. ngan, kuring teu ngarasa kudu loba cumarita ka mang odon.
[]

MEGAWATI TEU SUDI DIGEROAN SBY!

Sababaraha waktu katukang Indonesia di genjlengkeun ku sisindiran politik antara Megawati Sukarno Putri jeung Presiden SBY. Nepi ka aya nu nyarita ka kuring yen Megawati teu sudi pisan-pisan mun kudu digeroan Pa SBY.

Cag kuring mule ngira-ngira, naon sababna Ibu Megawati Sukarno Purti teu sudi di geroan ku SBY. kuring nanya ka eta nu nyarita naon sababna Megawati teu sudi di geroan Pa SBY.

Nya baturan kuring ngan nyarita kieu,"Aya 2 alesan nu jadi sabab. Kahiji manehna awewe, teu mungkin hayang digeroan bapak. Kadua, ngaran manehna Megawati lain SBY. Jadi manehna teu sudi pisan-pisan digeroan "Pa SBY". Hayangna digeroan "Ibu Megawati" we cukup, ataw ngarah leuwih akrab mah "Mbak Mega" kitu"

"Koplok!", ceuk kuring bari tuluy ngudud.


slipi, satu hari sebelum pemilu 2009
anggawedhaswhara

Tuesday, January 27, 2009

Catatan 3: Dican dan Sepasang iPod Canggih.

:buat Dican, adik kecilku

Dican punya iPod baru. Dibelikan ayahnya dari kawasan elektronika Glodok di Jakarta. Warnanya merah hati, seperti warna baju yang dikenakan ayahnya sewaktu membeli iPod merah hati itu. Tombol-tombolnya putih. Sisanya kabel berwarna putih yang membuat penampakannya menjadi manis dan elegan. Bahkan seorang Bill Gates pun tak akan mampu membelinya.

Saking senangnya, Dican pun ingin berbagi kebahagiaan dengan Anto kekasih barunya yang hobi berpakaian kuning. Akhirnya dibelilah sebuah iPod yang sama, yang bahkan Bill Gates pun tak sanggup membelinya. Maka, genaplah satu pasang iPod merah muda dimiliki Dican.

Satu miliknya yang adalah pembelian ayahnya, satu lagi untuk kekasih Dican yang selalu berbaju kuning yang adalah pembelian Dican seorang.

****

Senja itu warnanya abu-abu, dengan membawa kotak berisi iPod merah hati Dican pergi menuju rumah Anto yang berbaju kuning. Terlihat bayangan Dican dengan latar matahari yang perlahan tenggelam ditelan bumi.

Romantis benar senja itu.

Anto sedang memotong tanaman pagar didepan rumahnya. Sekonyong-konyong Dican datang.

"Aa, aku punya hadiah buat aa.."

"Hai Dican, apakabar? sudah darimana?"

"Ini a, aku punya kejutan buat aa"

"Apa can?, aku sudah tahu perihal kening lebarmu itu..."

"Ah, si aa mah! bukan itu. aku punya hadiah buat aa"

"Hadiah apa Tarang* ku?"

"Ini a, buka saja..."


Anto yang berbaju kuning itu diam saja saat membuka hadiahnya. Tak ada rona bahagia atau sedikit pun rasa terimakasih.

Lalu Dican pun bertanya, "Kenapa a? aa ga suka?"

"Aa marah? kenapa a? jawab a? jawab?"

"Kamu tahu apa warna kesukaanku?"

"Kuning a.."

"Terus kenapa kamu belikan warna merah hati ini?"

"Biar sama a.."

"Tapi aku ga suka. Nih kamu ambil lagi, ga usah kasih-kasih lagi aku hadiah"

"Aa..........."

Lagu putus cinta mendayu.

Tapi Dican tidak menangis.


****

Diberikannya iPod merah hati itu pada ayahnya. Alang kepalang bahagianya si ayah. Bahagia tak terperikan.

Akhirnya Dican sekarang memiliki iPod yang sama dengan ayahnya. iPod canggih berwarna merah hati yang bahkan Bill Gates pun tak sanggup membelinya.

Memang, malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya**.




Slipi, 27 Januari 2009 | 00:04
anggawedhaswhara


catatan:
* bahasa sunda=kening
** saya berterimakasih pada Dewi Lestari atas kalimat ini.

Wednesday, January 21, 2009

AKU MENJELAGA

aku menjelaga jingga
ada apa dengan senja yang menguning itu?

gelisah memampat pada aroma tubuhmu yang aduhai
kapan mendendangkan lagi lagu rindu?

aku
jelagaku

membakar sisa senja yang buram


BK39, 22 januari 2009 | 17:21
anggawedhaswhara

Friday, January 02, 2009

Lelaki Itu Bernama Armand

Saya tak akan melupakan peristiwa ini dalam catatan akhir tahun 2008 saya..
Alkisah, saya berjalan-jalan ke BragaCitywalk dengan niatan hangout dan nonton film di 21 di sana.. peristiwa kedatangan dan kegiatan disana berjalan sebagaimana mestinya tanpa kurang satu apapun. Namun sepulangnya darisana ada yang menarik. Marilah saya ceritakan.

Seperti seharusnya motor parkir disana saya mengambil lantai B3 sebagai tempat parkir, artinya saya memarkir kendaraan dilantai terbawah gedung itu. Begitu usai saya membayar jasa parkir, saya mendapati motor saya tersendat2 seperti tanda habis bensin. Betul saja, jarum penunjuk menunjuk huruf E, damn! habis bensin. Tapi sebagai seorang yang pantang menyerah, sehabis memiring2kan motor kemudian stater motor saya tekan lagi hingga menghasilkan raungan motor yang tersenggal-senggal. "Ok, mau maju nih... segera ke pom bensin..", ujarku dalam hati.

Namun, apatah daya baru sampai di B1 motor sudah mati lagi. Segenap daya upaya saya lakukan lagi, namun tiadalah hasil yang berarti. Hingga akhirnya seorang petugas parkir menghampiri.

"Kenapa kang?", tanyanya langsung setelah tersenyum

"Abis bensin kang.. saateun pisan... didorong, tapi masih aya 2 lantai lg nya?"

"Mau saya anter beli atuh kang? pake motor saya?"

saya diam, bertanya dalam hati namun tak berucap.

"Ga apa-apa?"

"Ga apa-apa... motor saya dibawah kang..", sambil berlalu dan saya terkaget-kaget olehnya..

Sampai di B3, saya masuk lagi diparkiran. Terlihat si akang tadi sedang mempersiapkan motornya.

"Mangga, ini kuncinya.."

Saya masih bingung..

"Akang percaya sama saya?"

"Sok aja.. santailah saya mah..."

Saya masih ga percaya ini orang ngasih pinjem motornya sama yang baru dia kenal.

Biar dia tenang juga minjemin motornya sama saya, saya kasih kunci dan stnk motor saya. Dan sambil ngasih saya masih ga percaya ada orang yang percaya ngasih motornya sama orang yang baru dikenalnya.

Pas keluar, petugas jaga pintu bertanya pada saya?

"Kakaknya Armand?"

"Oh, bukan... baru kenal barusan juga"

Lelaki itupun bingung dan seolah tak percaya mempersilahkan saya beranjak dari sana.

Bergegas menuju Jalan Naripan akhirnya saya menemukan pom bensin, setelah sebelumnya membeli kemudian menyiram pohon oleh air dari botol air mineral yang baru saya beli demi mendapatkan botol bagi sang bensin.

Sepulangnya, lelaki yang akhirnya saya ketahui bernama Armand itu menghampiri saya yang akhirnya berhasil mendapatkan sebotol bensin dan mengisikannya pada motor saya.

"Hatur nuhun Kang Arman..", seraya memberkan kunci, STNK, dan selembar uang utnuk mengganti bensin motornya yang lupa buat saya isi bensin

"Naon ieu? teu kedah atuh kang..", sambil mengembalikan lagi lembaran uang yg saya berikan

"Ieu mah kangge ngagentosan bensin motorna kang..", saya masukan uang itu pada saku celanyanya..

"Eh, nuhun atuh nya..."

"Sami-sami kang, saya nu kedahna nuhun ka akang", sambil berpikir dan tetap tidak percaya da orang yang percaya ngasih motor dan stnknya pula sama orang yang baru dikenalnya.

Kemudian saya menjadi terharu. Dan terus bergema dikepala saya.

"Laki-laki itu bernama Armand", kata gema dikepala saya

Laki-laki itu bernama Armand.

Laki-laki itu bernama Armand.


Monday, November 05, 2007

MALEM-MALEM AMPLOP COKLAT

:cerpen buat Aliet, Alip, Heri, Kun-kun, Jaya, Reza, dan Kang Wawan

Malam ini biasa-biasa saja. Cuma ada lagu Iwan Fals dan data-data yang masih saja aku ratapi di komputer old skool ini. Di depan tivi ada ada 2 botol air mineral. Diatasnya ada antena warna jingga. Henpon dihubungi dua nomor esia yang ga dikenal. Cuma miskol aja. Siapa ya? Ah, peduli amat!

Aku kaget! Di atas meja ada amplop coklat tebel banget. Amplop coklat yang mirip banget sama amplop-amplop duit di bank-bank. Biasanya sih isinya duit. Dan sepertinya ini memang amplop coklat isi duit. Mau di ambil tapi deg-degan. Ambil jangan ya? Tapi kalo diambil takut dosa. Da bukan hak saya. Ambil? Jangan? Ambil? Jangan?

Ambil ah...

Jangan ah...

Ambil!


Amplopnya sekarang udah ditangan. Aku deg-degan. Pengen buka isinya, tapi takut. Buka? Jangan? Buka? Jangan? Buka!

Asik! Isinya duit semua... ada 8 gepok duit warna merah semua. Seratus ribuan... jumlahnya pasti banyak banget.... kalo satu gepoknya isi seratus lembar, berarti semuanya ada 80 juta. Banyak banget!

Mungkin ini mah rejeki aja dari Allah....


Allah malem ini lagi baek banget. Ya, emang Dia suka baek banget sama siapa aja. Termasuk aku.


Besoknya...


Duit yang delapan puluh juta itu aku bawa ke kantor. Di kantor ada Alit, Jaya, Heri, Alip, Kun-kun, Reza, sama Kang Wawan. Semuanya lagi pada ngelamun aja. Pada pengen ngeroko tapi ga punya. Kasian banget mereka. Aku jadi pengen banget beliin mereka roko Dji Sam Soe kesukaan Kang Wawan. Tapi kan duit di dalem tas ada banyak banget. Masa cuma beliin mereka rokok Dji Sam Soe aja.


Ah, gini aja! Nanti pulang kerja aku ajak mereka semua pada makan di Cafe Citra.


Ga sabar banget ajak semuanya makan-makan. Terus udahnya beliin rokok. Dji Sam Soe mereknya.

Sorenya...


Kita semua rame-rame pada makan di Kafe Citra.

“Jaya mesen Nasi Gila, terus pake Chicken Katsu, minumnya Milk Shake Strawberry”, kata Jaya semangat banget.

“Alit, Bebek ala Prancis pake saus barbeque. Minumnya es teh susu”

“Alip, Pengen nasi gila juga, tapi minumnya Ice Chocolate Originalle”

“Kun-kun mah, ayam bakar tapi nasinya nasi lemak, minumnya Es teh manis, terus pengen Es krim goreng ya Kang....”

“Saya mah, ga makan ah... sok inget ka budak euy...”, Kang Wawan kelihatan selera makan karena inget anak istrinya dirumah.

“Sok aja kang milih aja, buat anak sama istri akang mah di bungkus aja.... “, saya juga kasihan dan inget sama anak sama istriny Kang Wawan.

“ Ya, udah atuh... saya makan Nasi Gila aja.... buat anak sama istri saya mah sukanya ayam bakar aja... “

“Tulis za....”, ujarku pada Reza yang dari tadi nulis pesenan.

“Kamu mau apa ri?”, tanya ku pada Heri...

“Saya mah ga makan ah Kang, nanti aja di rumah... tapi pengen Eskrim goreng ya...”

“Satu aja ri? Rasa naon?”

“Iyalah, satu aja. Rasa naon nya?”

“Udah ri, smua rasa aja kamu pesen... kamu suka banget kan?”

“Boleh, boleh....”, jawab Heri seneng banget.

“Saya mah, Nasi Gila pedas aja, minumnya..... es kopi pahit”

Reza nulis semua pesenan, termasuk pesenan dia juga. Terus ngasihin catetannya sama pegawai cafe Citra. Yang punya Cafe kayanya seneng, karena pesenan kita banyak banget.

Singkat cerita, selepas makan enak dan bayar makan sore itu. Totalnya 356.000. Duitnya ngambil dari amplop cokelat itu. Ga lupa pesenan Kang Wawan buat anaknya.

Pulang dari Cafe Citra, kita semua pada maen dulu ke toko henpon di daerah Buah Batu. Pengen banget beliin mereka henpon baru. Tapi mereka kayanya belum tahu aku lagi banyak duit, dan pengen beliin mereka semua henpon baru.

“Sok, pada pengen beli henpon apa?”

“Ah, duitnya ga ada Kang... “

“Santai aja Ri, biar saya yang bayar....”

“Nu bener Kang? Jaya dibeliin juga ga?”

“Sok aja, semuanya saya beliin. Tinggal pilih aja aja. Nanti saya yang bayar.”

“Ga usah Kang ah, ngerepotin....”, kata Kang Wawan.

“Sekalian aja kang, sama buat istri akang... Sok aja pilih...”

“Ya udah saya pilih ini aja dua...”

“Masa itu kang, pilih yang bagus atuh... Sok aja semuanya pada milih... Jangan malu-malu”

Pulang dari toko henpon semuanya udah bawa kardus henpon sendiri-sendiri. Semuanya seneng banget keliatannya. Apalagi Heri, henpon lamanya udah ga ada gambarnya. Ga lupa juga semuanya pada diisiin pulsa. Masing-masing tiga ratus rebu.

Sekarang mereka harus pada pulang, udah malem katanya.

“Eh, sebelum pulang kita Ke Karapitan dulu... beli Martabak San Fransisco buat dibawa kerumah masing-masing ya...”, sahutku pada mereka semuanya.

“Aduh Kang, udah lah.... meni segala rupa...”

“Ngga apa-apa... ini mah oleh-oleh buat orang-orang dirumah... enak tau makan martabak ini malem-malem. Mereka belum pada tidur kan?”

Akhirnya mobil belok dan parkir tepat didepan tukang martabak yang malem ini agak sepi ga seperti biasanya. Kita mesen 14 loyang martabak. Masing-masing bawa 2, yang manis satu, yang asin satu. Semuanya kebagian. Ga ada yang ga seneng malem ini. Semuanya pada seneng-seneng banget.

“Pada lapar ga? Kita makan dulu di Ceu Mar yu?”

“Dimana itu teh kang?”, tanya Heri polos

“Adalah, di deket Taurus Banceuy itu... Enak banget... pada mau ngga?”

Semua diem senyum-senyum ga ada yang nolak. Akhirnya mobil parkir tepat didepan toko bir legendaris itu. Taurus namanya.

Kita sekarang pada makan di Ceu Mar. Semua seneng banget. Heri lagi telpon ibunya, laporan. Jaya, lagi telepon Pingky. Alit, lagi ngahereuyan bencong yang pada makan dideket kita. Keliatan banget kalo Alit ahli banget ngahereuyan bencong. Alit udah biasa maen sama bencong.

Habis makan dan bayar, kita pada pulang ke rumah masing-masing dianterin Reza yang mobilnya baru saya isiin bensin full tank.

Akhirnya saya nyampe rumah juga. Ngantuk banget. Tapi ada sms masuk. Dari Kun-kun.

Mkasih ya kang, buat henpon ma mrtbknya.

amplop coklat ada duit dua juta juga dari

Kakang ya? Nuhun pisan kang...

Message reply.

Ya itu mah lumayan aja, bisi kalian pengen

ngasih orang tua. Sing barokah nya...

Message sent.

Dateng lagi sms yang isinya hampir sama. Tentang henpon, martabak, sama amplop coklat isi dua juta. Ya, balesnya sama aja. Ya itu mah lumayan aja, bisi kalian pengen ngasih orang tua. Sing barokah nya...

Malem udah larut banget. Mata udah ngantuk. Di meja masih ada amplop coklat. Isinya sisa dari duit yang delapan puluh juta yang tadi udah dibagiin buat Heri, Alit, Alip, Jaya, Kun-kun, Reza, sama Kang Wawan. Sekarang bobo ah... Kan besok harus kerja lagi pagi-pagi.


Sari Asih, 5 Oktober 2007 | 02.00 sebelum sahur

anggawedhaswhara

Related Posts with Thumbnails