welcome itu selamat datang
di blog anggawedhaswhara
untuk mengunjungi websitenya,
silahkan scan QR-Code berikut

whatyourart

enter itu masuk
Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Tuesday, June 22, 2010

Kangen

(Kau tak akan mengerti
Bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

Kau tak akan mengerti
Segala lukaku
Karena luka telah sembunyikan pisaunya.

Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.

Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti
Aku tungku tanpa api.

(KANGEN-W.S.RENDRA)

Wednesday, May 19, 2010

WHAT YOUR ART ARE FOR?


seni itu untuk kehidupan,
dia harus bisa memanusiakan manusia.
jika seni untuk seni (art for art), untuk apa?
mungkin itu sama seperti makan untuk makanan.


Ya, what your art are for?

Pertanyaan ini terus mengganggu keseharian sejak beberapa tahun terakhir ini. Mungkin sejak 2006 atau 2007. Saya, lupa pastinya. Yang jelas sejak saya membaca wawancara disalah satu harian terkemuka dengan KH. Mustofa Bisri. Ditanyalah dia oleh wartawan dalam sebuah artikel yang berbentuk tanya jawab. Pertanyaannya kira-kira begitulah. Tentang apa guna seni bagi beliau. Dan dijawablah dalam wawancara itu. Bahwa seni itu harus untuk manusia. Ya, kira-kira seperti yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini jawabannya.

Dan begitulah. Berbulan-bulan, bahkan sampai menahun sejak hari itu. Pertanyaan si wartawan tadi terus menerus mengganggu pikiran saya. Tapi, meski begitu saya tetap saja melakukan aktifitas berkesenian dengan mengikuti apa yang KH. Mustifa Bisri jawab pada pertanyaan itu. Sebab saya juga adalah seniman yang menganggap art for art adalah nonsense. Tanpa bermaksud sok pintar, atau balaga. Sebab apalah saya, seniman yang sama sekali tak punya latar belakang pendidikan formal kesenian. Bahkan kehadiran saya di jagad kesenian pun –dalam hal ini performance art—menjadi sebuah pertanyaan. Terlebih soal konsistensi kekaryaan dan bentukan kekaryaannya sendiri. Meski saya pernah ambil pusing mengenai hal itu, toh kemudian saya tetap keras kepala. Hinga akhirnya beberapa media meliput karya-karya saya. Bahkan kalo boleh berbangga, sepengetahuan saya. Sayalah satu-satunya performer artist muda yang karya performancenya menjadi cover sebuah tabloid mingguan di kota Bandung, meski hanya sebuah tabloid gratisan. Itu juga mungkinkarena fotografernya saja yang sukses mengambil gambar yang keren.

--- loh kenapa tiba-tiba tulisan ini menjadi sedikit keluar dari seharusnya? oke, kita luruskan lagi—

Kembali ke konteks dimula. Saya jadi ingat obrolan saya beberapa tahun kebelakang dengan Kang Arief Yudi dalam sebuah perjalanan pulang dari Kuala Lumpur selepas kami berdua turut serta dalam acara Notthatbalai Art Festival. Dimana? Ya disana, di Kuala Lumpur. Jika tidak salah ingat saat itu aktifitas di JAF masih pada tahap awal. Beliau bercerita tentang apa yang ingin diperbuatnya di kampung halamannya itu. Juga tentang apa-apa saja mimpi beliau bagi komunitas yang sedang dirintisnya itu. Hingga sampai pada kesimpulan akhir pembicaraan bahwa seni itu harus menjadi senjata untuk mensejahterakan masyarakat. Sejahtera disini dalam artian yang sangat luas. Sejahtera pengetahuan, sejahtera jiwa, sejahtera kehidupan, juga tentu saja sejahtera secara kehidupan. Bahwa seni itu harus untuk kehidupan yang lebih baik. Seni harus menjadi alat pemenuhan “dahaga” manusia. Jadi bukan seni untuk seni. Cocok! ini cocok dengan premis saya yang mengatakan non sense untuk art for art. Juga senada dengan apa yang dikatakan KH. Mustofa Bisri yang saya tuliskan dimuka.

Setelahnya. Saya masih tetap berkesenian. Masih keras kepala membuat karya performance art, meski diri ini masih saja diliputi pertanyaan, “what your art are for?”. Parahnya kekeras kepalaan saya mengakibatkan pertanyaan itu menjadi sesederhana, “buat apa kamu makan?” “ya buat memenuhi kebutuhan hidup”. begitulah akhirnya saya memandang kesenian yang saya jalani. Sekedar pemuas “lapar” , atau bisa jadi sekedar “haus tepuk tangan” –meminjam terminologi yang pernah diucapkan Ageng Purna Galih pada saya-. Dan saat itu saya tidak berpikir ada yang salah dengan itu. Sah-sah saja rasanya.

Hingga pada akhirnya saya diundang untuk ikut serta dalam 2nd International Performance Art in Residency yang diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Event –pake “e” bukan pake “i”- performance festival yang didahului dengan proses short residency selama satu minggu. Sebuah performance art festival yang benar-benar baru bagi saya dalam proses penciptaan karya. Setiap seniman yang diundang tidak membawa karya yang sudah jadi. Tapi lebih pada membawa karya “mentah” untuk kemudian di kaitkan dengan konteks lokal di Jatiwangi. Seniman dipaksa berinteraksi dengan masyarakat lokal dengan cara tinggal di rumah penduduk setempat untuk kemudian menggali “potensi” untuk seniman mensinergiskan karya “mentah”nya dengan konteks lokal. Kira-kira seperti itulah prosesnya berlangsung. Yang pada akhirnya saya baru tahu dari Juliana Yasin, bahwa event itu bukan performance art festival tapi lebih sebagai short residency festival.

Yang terjadi pada saya saat itu adalah tinggal dengan seorang petani. Saya datang tanpa tahu akan melakukan apa. Benar-benar mentah. Tapi kemudian pada detik-detik harus mempresentasikan karya, akhirnya bisa juga. Saat itu yang terjadi adalah saya benar-benar menikmati proses “penciptaan” karya. Saat itu saya mengalami membuat karya performance art yang benar-benar “dekat” dengan peristiwa. Mungkin saya terlambat. Banyak seniman yang telah melakukannya. Tapi kalo bicara mengenai diri saya, mungkin ini karya yang benar-benar saya temukan “klik” nya setelah karya Wheel Chair Story . Yang pasti saat itulah karya performance art saya menjadi terasa benar-benar “hidup” tak sekedar “hadir”.

Saat itu untuk ketigakalinya setelah peristiwa membaca wawancara dengan KH.Mustofa Bisri dan perjalanan pulang bersama Kang Arief Yudi. Saya benar-benar yakin bahwa seni itu bukan sekedar seni. Dia tak sekedar “hadir” tapi harus juga “hidup”.

Tapi bukanlah manusia jika imannya tidak “yazidu wa yan kudzu” –naik dan turun--. Setelah itu saya kembali membuat karya yang akhirnya hanya sekedar hadir. Tidak menjadi hidup. Meski untungnya tak sebanyak sebelumnya. Mungkin atas kesadaran bahwa karya itu harus “hidup” bukan sekedar “hadir” akhirnya saya cukup sering menolak undangan untuk performance. Jika meminjamkan istilah Agung Jek tadi malam, saat itu saya tidak ingin menghambur-hamburkan peluru.

Begitulah, sekedar pembuka catatan ini.


***


Karya, dalam pemikiran saya saat ini haruslah bisa hidup. Dia tidak sekedar ada, tidak sekedar menjadi. Tapi harus menciptakan peristiwa. Dia harus meruang, harus hadir sebagai sebuah mesin cetak sejarah. Mungkin bagi beberapa orang sudah. Mungkin juga bagi beberapa orang lainnya terlalu angkuh jika kita memposisikan seni seperti itu. Persetan saya pikir. Bukankah ini sedang membicarakan seni dalam pandangan saya? jadi, terserah saya saja.

---ko jadi terlalu serius?, baelah... –

Saya ingat pertanyaan Muktimukti pada peluncuran buku Kumpulan Puisi Ziarah Kata di GIM, yang mana dalam buku itu salah satu karya puisi saya disertakan.

“Lalu, setelah puisi selesai ditulis, lalu dibukukan, selanjutnya apa?”

“Dibaca”, jawab saya dengan naifnya.

“Setelah dibaca?”

“Orang mengerti”, jawaban naif nomor 2.

“Setelah itu lalu apa? apa gunanya buat orang yang membaca?”

“...”

“Seharusnya seniman itu bisa hadir di kehidupan nyata”, sambungnya

“Dia harus bisa berkontribusi bagi masyarakat, bukan sekedar seni untuk seni. Dia harus ada disana, memposisikan diri disana. Menciptakan persitiwa.”, katanya lagi.

“Bukan sekedar ada, dia juga harus hidup”, sahut saya sambil terus berpikir. Sementara didepan saya Frino Bariarcianur menjadi MC, dan Soge Ahmad murtad jadi fotografer.

Ya, pertanyaan Muktimukti akhirnya menjadi pencongkel nomor empat dalam kegelisahan saya.


***

Semalam, Alinalin Alunalun bercerita pada saya tentang bagaimana seorang Marina Abramovic mempersiapkan karyanya. Konon katanya, 1 bulan sebelum dia mempresentasikan karya performance artnya dia akan melakukan “puasa”. Hingga pada saat performancenya dilakukan dia dalam kondisi benar-benar lapar, dimana katanya dalam keadaan seperti itu keadaan seseorang dengan penciptanya sangatlah dekat –masih kata Alinalin Alunalun–

Begitupun Agung Jek bercerita tentang proses yang akan dilakukannya akhir tahun ini di Hanover, Jerman, untuk membuat satu karya performance dia harus melakukan brainstorming dan riset selama lebih dari 3 bulan lamanya. Hmmm, sementara banyak dari kita yang ketika diundang performance disuatu tempat, sontak saja mengatakan kesediaannya. Meski belum tahu mau bikin apa. Yang penting ada dulu di publikasi. Mungkin saya salahsatunya. Kasihan saya.

Bahkan banyak seniman yang secara kuantitas sangat sedikit membuat karya, tapi masing-masingnya memiliki efek ledak yang dahsyat. Baik secara kualitas kekaryaan, politik ruang, hingga politik waktunya di pikirkan masak-masak dalam sebuah riset yang tajam, dengan premis yang mantap. (hmmm, apa ini?)

Saya teringat juga obrolan saya dengan Frino Bariarcianur di Jatiwangi pada suatu masa.

“Bang, kapan bikin performance lagi?”, tanya saya

“Saya belum tahu mau bikin apa lagi”, jawabnya datar

“Wah, sayang bang. Padahal karya jalan mundur itu nampol banget bang!”

“Justru karena itu ngga, sy belum bisa lagi bikin karya semacam itu. Semacam trauma saya ngga. Sebab selepas performance it say ga bisa jalan normal sampai 3 hari lamanya.”, Frino mengaburkan jawaban seakan enggan menjawab dengan sejujurnya. Meski akhirnya saya hanya bisa menebak-nebak saja apa yang ada dikepalanya. bahwa dia sedang mempersiapkan karya monumental selanjutnya.

Saya ingat lagi pada obrolan dengan Muktimukti dalam acara peluncuran buku itu.

“Mungkin karyanya ga akan pernah selesai-selesai ngga, tapi catatan kakinya sudah banyak menyimpan peristiwa.”

“Ya, begitulah seharusnya karya seni”, saya pikir

“Dia harus HIDUP! bukan sekedar hadir”, teriak saya dalam hati.


***

Semalam, akhirnya saya utarakan pada AgungJek dan Alinalin Alunalun soal kegelisahan ini. Jawabannya adalah saya membatalkan keikutsertaan saya dalam performance art event yang akan dibuat pada tanggal 29 Mei ini di Pusat kebudayaan Cigondewah milik Tisna Sanjaya. Bukan karena saya tak tahu mau bikin apa. Tapi mungkin lebih pada pertanyaan. “Lalu setelah performance saya di presentasikan apa?”. Juga selain lebih baik saya berkonsentrasi pada apa yang akan saya lakukan di Jatiwangi tanggal 24 Juni – 9 Juli 2010 di acara Jatiwangi Art Residency Festival 2010 yang akan diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Komunitas seni yang mengajarkan banyak hal pada saya.


***


Akhirnya, jika Aminudin T.H. Siregar –kalo ga salah-- dalam sebuah harian mengatakan bahwa sebelum menjadi performer artis, hendaknya seniman belajar menggambar dulu. Saya berkata kemudian. Sebelum mebuat karya seni hendaknya seseorang belajar hidup dulu.

Ah, ngelantur saya. Kayak orang yang ngerti seni saja.

Yang pasti, saya sedang menceritakan saya. Bukan siapa-siapa. Jadi, kalo ada yang tersinggung, itu bukan urusan saya. Wong saya sedang menceritakan saya, bukan siapa-siapa.



Citeureup, 15 Mei 2010
anggawedhaswhara

Monday, October 19, 2009

CATATAN RINDU DARI DIES EMAS FAPERTA UNPAD

Mentari menyala disini
Disini didalam hatiku
Gemuruh api nya disini
Disini diurat darahku


Sore itu hujan lebat mengguyur kota Bandung, hujan yang sekejap sempat mengurungkan niat saya mengarahkan kemudi ke Jatinangor, bagian kota kecil dimana Pangeran Kornel pernah menyalami Deandles dengan tangan kirinya seraya tangan kanan menggengggam kepala keris. Untunglah seorang Achdya Kusuma yang baik hati tak sedikitpun ragu menjemput saya untuk melanjutkan perjalanan yang sempat saya urungkan.

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang mampu menghalangimu
Menyala di dalam hatiku...


Ya, sore itu di Jatinangor tengah berlangsung perhelatan Dies Natalies 50th Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Entah apa sesungguhnya yang menguatkan niat saya berkunjung kesana. Meski saya tak terlalu yakin akan ada kawan-kawan satu angkatan saya yang hadir disana. Tapi, takdir takkan mengubah ketentuannya akan hal ini. Sore itu tepal pukul 5 saya menginjakan kaki di kampus itu lagi, kampus yang lama tak saya sambangi, kampus yang memberi arti besar dalam kehidupan saya. Kampus yang telah mengajarkan tentang arti kebersahajaan. Kampus yang telah memberikan takdir jodoh juga pada saya. Kampus yang hari ini telah berubah menjadi kampus yang cantik, sehingga basahnya air hujan menjadikan langit sore itu tampak manis sekali.

Walhasil berjumpalah saya dengan Fikri Rabbani yang ternyata masih setia menanti senja yang lembut di Jatinangor, kemudian saya bertemu Budian Sahala dan Jacko, kawan-kawan muda yang tampaknya masih betah di kampus yang telah menjadi sangat berbeda itu. Berbincanglah kita tentang kerinduan dan kabar-kabar, sebuah sapa yang berkesan basa basi tapi bermakna besar ketika terucapkan sore itu. Tak lama dari kedatangan saya, Abah Iwan Abdurrahman datang seorang diri saja. Tumben.

“Damang bah?”, sapa saya pada Abah sembari bersalaman

“Alhamdulillah”, jawabnya dengan keramahan yang sama

“Teu sareng Kang Eric?”, tanya saya lanjut, sebab biasanya Abah hadir bersama kang Eric Martialis.

“Henteu, Kang Eric tos tipayun... “ begitu jawab Abah sembari mengisi buku tamu lalu dilengan kanannya disematkan pita berwarna hijau.

“Abah tipayun nya ngga, tos diantosan diluhur...”, sembari menunjuk gedung Dekanat.

“Mangga bah”, jawab saya yang tengah direcoki marketing kartu kredit berkedok kartu alumni Unpad.

“Maaf mbak, tapi saya ga suka pake kartu kredit. Riba mbak, riba.”, jawab saya pada si mbak berkerudung yang telah berbicara panjang lebar.

Dengan pita hijau tersemat dilengan kanan dan nametag tergantung didada pemberian kawan-kawan 2009 saya bergegas menuju gedung 5. Ya, gedung 5. Gedung yang telah menghisap sebagian besar hidup saya di Jatinangor. Ditangga gedung itu menuju plasa, sekilas tampak bayangan 3-8 tahun yang lalu. Bayangan kawan-kawan menjuari Sepak Bola Ria, bayangan Kawan-kawan Kotakhijau berdiskusi tentang apa saja, juga bayangan kebersamaan dan rindu yang dimuntahkan dalam kilasan-kilasan foto masa silam. Hmm... senja itu untuk pertamakalinya saya bersama Fikri Rabbani merasakan nostalgia yang mesra.

Magrib dikejauhan terdengar lamat-lamat tepat disaat saya berjumpa dengan Jiun, Opik, Ebes, Gelar, dan beberapa kawan-kawan The Docs yang dikomandoi Eri Mochtar. Hmm... Nostalgia tercipta lagi... pertanyaannya masih sama tentang kabar dan kabar yang sama sekali tak terdengar basa-basi, bahkan lebih terkesan sapaan rindu yang dalam. Lalu berkenalanlah saya dengan anak muda bernama Goro seorang wakil ketua Himagro yang mengajak saya berbincang pendek tentang Food Not Bomb, lalu Food For Resistance. Sore itu bergeser dari obrolan rindu menjadi persoalan pangan yang runyam. Persoalan pangan yang tak kunjung usai, meski 50 tahun sudah Fakultas Pertanian Unpad dengan gagah berdiri di tanah pertiwi ini. Hmm... romantisme menjadi paradoks yang runyam. Hingga tercetus janji saya untuk berbagi dengan lebih panjang persoalan ini pada kawan-kawan Himagro. Tanpa ragu sedikitpun, sore itu dengan diiringi kumandang adzan saya memberikan kartu nama saya pada Goro sebagai pertanda saya siap kapan saja untuk diajak berdiskusi tentang apa saja.

Selepas menunaikan solat maghrib lalu saya jumpai Nonon ada disana juga, kemudian Budidaya Unpad 2001 menjadi 3 oranglah sore itu. Dengan ditemani sajian makan malam, saya, Fikri, dan Nonon kemudian berbicara tentang segala ditemani Pak Ranu, Pak Nana, dan Pak Ading. Tiga orang lelaki yang memiliki jasa cukup besar bagi kawan-kawan mahasiswa Fakultas Pertanian dia era saya, bahkan konon sampai hari ini. Jika boleh saya mengutip istilah Abah Iwan Abdurrahman mereka inilah “Akar”. Ya, mereka inilah akar pohon-pohon yang banyak dilupakan, tersembunyi dari cerita atau lagu. Jangankan lagu, bahkan tiada orang peduli. Akar. Ya, merekalah akar itu.

Pertemuan menjadi semakin besar, oleh kedatangan Gari dan Sulis, dan ketika kita bergerak menuju gedung 5 kembali kita disambut oleh Sofi dan suami, lalu ada Didiet ’99, Yayu ’99 dan Salman anak mereka . Wow, rindu bertambah menjadi besar. Konon Hawari, Agah, Vidi, Hilmi, dan Kholid akan menyusul, kelimanya angkatan ’99.

Akhirnya panggilan MC di plasa mengiring kita berjalan menuju plasa yang telah ramai terisi orang-orang. Ya, orang-orang yang menyimpan rindu yang sama pada almamaternya. Di plasa itulah akhirnya kami berjumpa dengan Riza Rinjani ’98 yang sekarang telah memiliki karir yang cukup cemerlang di sebuah bank besar tanah air. Obrolan tak terlalu panjang sebab dinginnya Jatinangor malam itu menarik kami untuk menikmati segelas kopi yang disediakan di ruang dekanat. Dengan diiringi segelas kopi pahit dan teh manis, bincang-bincang dengan kawan-kawan ‘99 berlangsung lebih intim. Hingga setelah cukup hangat kami kembali ke plasa untuk menikmati acara yang dinanti-nanti, yaitu pertunjukan GPL (Grup Pecinta Lagu) Unpad yang menjadi legenda.

Sebelum pertunjukan GPL, dipanggung MC mendulat dua orang angkatan pertama Faperta Unpad, keduanya kini menjadi dosen Faperta Unpad. Mereka memberikan Orasi Kilas Balik 50 tahun Faperta Unpad yang oleh keduanya diplesetkan menjadi “orasiap” karena konon mereka tidak mempersiapkan apa-apa untuk obrolan malam ini. Walhasil orasi kilas balik yang biasanya menjemukan menjadi sangat cair dan segar. Hatur nuhun Kang eceu ’59 yang telah mengingatkan kita untuk terus bersyukur bahwa hari ini ilmu sangat mudah diperoleh. Tak sesulit di era mereka. Salut saya buat mereka, angkatan pertama, yang menjaid cikal bakal kebersamaan yang tertanam hingga 50 tahun Faperta berdiri.

Akhirnya MC mempersilahkan GPL yang dikomandani Abah Iwan untuk naik ke atas pentas. Sebelumnya ada grup Vokal Grup Faperta Unpad, yang membawakan lagu Manuk Dadali yang sepertinya cukup untuk memanaskan malam yang terasa semakin dingin. Malam itu GPL tampil dengan personil yang hampir lengkap, bahkan Aom Kusman yang akrab disapa Unang oleh kawan-kawannya pun hadir malam itu. Sungguh sebuah penampilan yang sepertinya akan monumental. Sebelum GPL bernyanyi, Abah Iwan memanggil dulu Kang Aat Suratin untuk menyampaikan pembuka. Seperti dalam kebiasaan acara yang dibuka Aat Suratin, malam ini pun Lagu Indonesia Raya membuka pertunjukan dengan sangat khidmat, setelahnya Kang Aat berkisah tentang GPL.

GPL membuka pertunjukan dengan sebuah folksong yang sepertinya dari timur tengah yang saya pernah dengar dari kaset rekaman yang 3 tahun lalu diberikan kang Eric Martialis pada saya dan kawan-kawan _sindikat semutmerah yang saat itu membuat video profil Universtias Padjadjaran. Lagu kedua adalah sebuah lagu perang yang saya duga masih sebuah folksong dari timur tengah, dengan tempo yang menghentak cukup membuat kita berdendang dan menimbulkan semangat yang mantap malam itu.

Setelahnya Kang Iwan menyanyikan sebuah lagu pendek yg saya dengar pertamakali dimalam “Boykot” PAM 2002. Liriknya seperti ini,
KMFP my unique one/Please tell me where your home/My home it sit’s in priangan/It’s made of wood and stone.Sebuah lagu yang membuat saya ingin membuat rumah yang terbuat dari kayu dan batu untuk membesarkan anak-anak saya juga ruang pertemuan saya dengan kawan-kawan untuk berbuat yang berarti bagi masyarakat.

Lagu yang katanya lagu penutup adalah lagu MENTARI yang sengaja dipersembahkan bagi kawan-kawan mahasiswa agar tetap memiliki semangat seterang matahari. Khususnya lirik yang dinyanyikan berulang.

Hari ini hari milikmu
juga esok masih terbentang
dan mentari kan tetap menyala disini diurat darahmu


Lagu ini sengaja oleh saya dijadikan pembuka tulisan ini. Sebab lagu inilah yang cukup memberi semangat bagi saya untuk tetap bertahan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran khususnya setelah peristiwa Boykot PAM 2002. Lagu ini konon diciptakan ketika terjadi pendudukan kampus Dipatiukur oleh militer ketika akhir kejayaan orde lama. Dari sejak diperdengarkan pertamakali hingga hari ini lagu Mentari terus memberikan semangat yang berarti bagi hidup saya hingga kini.

Mentari menyala disini
Disini didalam hatiku
Gemuruh api nya disini
Disini diurat darahku

Hmm,akhirnya pertunjukan harus usai juga. Dinyanyikanlah satu lagu setelah endcore. Lagu “Almamater” lah yang dinyanyikan sebagai penutup yang merupakan lagu favorit Profesor Ganjar Kurnia ,Rektor Unpad saat ini yang merupakan lulusan Fakultas Pertanian. Yang seperti diutarakan Abah Iwan lagu ini telah menjadi sakral bagi mereka, dan kita semua.

Kan kutunjukan padamu
Kan kubuktikan padamu
Rasa bangga dan baktiku Almamater

Meski telah jauh darimu
Meski kau kutinggalkan
Rasa bangga ku padamu almamater

Dengan lindungan Tuhanku
Dengan semangat darimu
Ku akan selalu berjuang, almamater


Hadirin meletakkan tangan kanan di dada kiri nya sembari malantunkan lagu itu. Setelahnya riuh semangat dan Standing Aplaouse dipersembahkan tak hanya bagi GPL yang tampil dahsyat malam itu, khususnya bagi Almamater kita Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Selamat Ulang Tahun Emas Fakultas Pertanian, rasa bangga dan baktiku untukmu.

Kini saya tahu, apa yang menguatkan niat saya untuk menghadiri Dies Natalies Emas Faperta Unpad.

Rasa bangga dan baktiku Almamater.

Wednesday, July 01, 2009

Kidung 2.2



saat FAJAR ABADI menyanyikan lagu ini di Jatiwangi Art Festival 2008, aku mengingatmu.. tapi tak kuasa menjumpaimu...

Wednesday, June 24, 2009

HANCUR HATIKU



hancurlah berantakan semuanya...

Tuesday, June 23, 2009

pesan

senja itu celeng mengirim pesan pada dara "its happen for a reason, but its hard for me to find it.... ga sama2 kamu itu aku kacau... makan siang aja sampe sekarang belum...".. dan dara tak membalasnya...

Monday, June 08, 2009

untittled

jika saja hanya cantik yang aku cari, lalu apa bedanya aku dengan kebanyakan lelaki yang bertebaran di muka bumi ini? aku mencari surga di bukit bunga dibalik bulan... yang konon disembunyikan Tuhan dibawah kaki Bunda...

untittled

sejatinya MENCINTAI itu cukup melihatnya BAHAGIA tp nafsu membuatnya lain.... keinginan untuk MEMILIKInya jauh lebih besar ketimbang keinginan membuatnya BAHAGIA....

Tuesday, May 19, 2009

Emang gaji sakitu cukup jang hirup di Bandung?


Beberapa waktu lalu sy berjumpa seorang kawan lama. Setelah ngobrol kesana kemari akhirnya dia bertanya tentang alasan kepindahan saya dari pekerjaan saya dahulu, padahal katanya sistem kerja dan pendapatan yg saya peroleh saat itu jauh diatas rata2. Hampir 3 kali gaji yg diperoleh si kawan itu. "Balaga maneh!" begitu katanya...

Hmm... ini bukan soal belagu-belaguan sebenarnya. Ini adalah tentang apa yg saya peroleh dan saya cita-citakan. Dan tak ada hubungannya dengan uang. Ini soal apa yg saya kejar dalam hidup saya.

Bekerja diperusahaan terdahulu itu benar2 menyenangkan buat saya. Dengan duduk di belakang komputer, gagambaran, terus paling pergi keluar buat pesen kopi atau beli makan, lalu diakhir bulan sy menerima gaji yg saat itu 3 kali gaji kawan saya. Tapi ternyata bukan itu yg saya inginkan. Saya ingin mencintai pekerjaan saya. Setelah itu persoalan penghasilan bukan urusan sy. Dan ibu sy sering mengajarkan bahwa rejeki itu sudah ada bagiannya. Tinggal kita berusaha dan berdoa saja.

Kembali lagi ke soal pekerjaan sy diperusahaan terdahulu. Meski bergaji hampir 3 kali gaji kawan sy, tapi seringkali sepulang bekerja saya mengeluh "cape". Seringkali di waktu ada yg membutuhkan, sy sedang sibuk oleh pekerjaan2an saya. Bahkan seringkali dikala harusnya sy bersenang-senang sy malahan harus tetap memikirkan tentang pekerjaan. Waktu sy untuk keluarga juga kekasih sy adalah waktu sisa dari pekerjaan sy. Hmm...

Sy sempat berpikir, "apakah semua org bekerja seperti ini?". Tak ada waktu bersosialisasi? Memberi waktu untuk keluarga dari sisa2 waktu bekerja? Mengeluh ketika terpaksa harus lembur? "Cape" setiap habis kerja. Bisa jadi.

Tapi kayanya itu ga akan terjadi kalo kita mencintai pekerjaan kita. Jadi, judulnya bukan soal berapa banyak uang yg kita peroleh, tapi berapa besar kita mencintai pekerjaan kita. Persis seperti hari ini.

Gaji yg sy peroleh dari tempat kerja sy sekarang lebih kecil dari gaji kawan sy yg tahun lalu gajinya 1/3 gaji sy dan masih sama sampai hari ini. Bedanya skrng gaji sy tak 3 kali lipat gajinya, bahkan lebih kecil dari gajinya. Tapi karena sy bekerja dengan cinta, alhasil persoalan gaji itu tidak menjadi persoalan. Bahkan alhamdulillah menjadi barokah. Sy masih bisa bayar cicilan motor, masih bisa nongkrong di cafe2 yang bertebaran di kota kembang, masih bisa ngajakin keponakan-keponakan sy nonton dan menjajah pameran buku.

Lebih dari itu semua, ternyata penghasilan sy sejak tahun lalu tidak pernah berubah... Allah mengatarkan rejeki buat saya dari jalan yang lain sehingga totalnya masih 3 kali gaji si kawan sy. Bedanya, sy lebih bahagia... dan lagi-lagi ini bukan tentang berapa jumlah uang yang kita peroleh..


BK39,
anggawedhaswhara


* tulisan sy ini adalah jawaban atas pertanyaan beberapa kawan tentang pilihan sy mundur dari pekerjaan lama dan mengambil pekerjaan baru saya.. bahkan untuk pertanyaan, "emang gaji sakitu cukup jang hirup di bandung?". hmmm... tak selamanya bekerja itu soal uang kawan.. juga untuk kawan-kawan sy yg sering mengeluh tentang pekerjaannya.. untuk kawan2 yang mengeluh tentang gajinya.. juga untuk kawan2 yg belum bekerja.. Allah mah Maha Beunghar...
** sorry kalo tulisan ini tak terstruktur dengan baik.. hoream nulis tapi harus ditulis, kaburu poho...
*** mungkin ini yg dimaksud Nugie dengan LENTERA JIWA...

Tuesday, January 27, 2009

LUDAH AMERIKA - Hujan Band



Song: Ludah Amerika - Hujan Band
Edited: anggawedhaswhara
video source: Youtube.com

Saturday, January 24, 2009

FOOD FOR RESISTANCE!

Mendapat e-mail dari sahabat lama saya, Ferial Afif. Seorang performer artist yang kini bermukim di Jogja. mengundang saya untuk turut serta dalam Asian Youth Imagination 2, yang akan mengundang beberapa seniman muda pelaku performans di Asia yang mayoritas kelahiran tahun 80an. Dilaksanakan pada 28 Februari - 11 Maret 2008 di Jogja Gallery.

Akhirnya saya harus mengirimkan Konsep Karya dan menjawab beberapa pertanyaan seperti berikut,

Deskripsi mengenai kamu secara pribadi/personal (10 baris)?
Saya lahir dan dibesarkan di Bandung sejak tanggal 15 Januari 1983. Menyelesaikan pendidikan pada program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Unpad. Saya adalah seorang performer artist yang aktif mempresentasikan karya perfomance art sejak tahun 2003. Sejak menyelesaikan kuliah pada awal tahun 2007, saya mulai intens untuk mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan, dunia pertanian, revolusi hijau, dan politik pangan dalam karya-karya performance art saya dengan kesadaran “hutang profesi”. Terlahir dalam keluarga yang “nyantri” , adalah sebuah tantangan bagi saya karena aktifitas kesenian yang saya lakukan sering dianggap “aneh” oleh keluarga. Namun hal itu yang akhirnya membuat saya banyak belajar bagaimana mendekatkan seni dan masyarakat dan akhirnya memikirkan cara bagaimana seni yang saya buat menjadi “mudah” bagi orang-orang.

Sejarah singkat sampai akhirnya mengikuti/melakukan performans (10 baris)?
Awal ketertarikan saya pada kesenian dimulai sejak bergabung dengan Teater Ah SMU Negeri 1 Bandung pada tahun 1998. Bosan dan jenuh bermain teater “konvensional”, pada tahun 2003 saya memastikan diri untuk menjadi seorang performance artist setelah turut serta dalam Bandung Performance Art Festival #2, lalu terpilih untuk berpartisipasi pada 2nd IAPAO Meeting . Karya performance art saya pernah di presentasikan di Bandung, Garut, Jakarta, Jogjakarta dan Malang baik di ruang public, kampus maupun di ruang kesenian. Tahun 2006 saya terpilih sebagai seniman yang mempresentasikan karyanya di Bandung New Emergence Volume 1. Pada tahun 2007 saya di undang untuk mempresentasikan karya performance art di Notthatbalai Art Festival, Kuala Lumpur. Sejak menyelesaikan kuliah pada awal tahun 2007, saya mulai intens untuk mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan, dunia pertanian, revolusi hijau, dan politik pangan dalam karya-karya performance art saya dengan kesadaran “hutang profesi”. Terakhir mempresentasikan karyanya pada 2nd Jatiwangi Arts Festival – International Performance Art in Residence, Agustus 2008.

Siapa yang menjadi inspirasi kamu dalam hidup?
STEVE JOBS dan para petani

Konsep dan rencana karya
Judul : FOOD FOR RESISTANCE
Konsep : Mari makan dan melawan!

Plot :
1. Arena berbentuk seperti dapur. Saya sudah siap dengan perlengkapan masak dan bahan2 makanan.
2. Lalu saya akan sedikit bercerita tentang bahan2 makanan yang akan saya olah ini darimana asalnya.
3. Sembari bercerita tentang bahan2 makanan itu saya akan membuat bentukan-bentukan serupa senjata untuk kemudian di foto masing-masingnya.
4. Bentukan-bentukan itu kemudian saya olah menjadi makanan siap santap untuk kemudian di santap bersama-sama audience.
5. Selesai!

Material :
1. Seperangkat kompor gas pembagian pemerintah.
2. Wajan, pisau, dan alat masak penunjangnya.
3. Bahan2 makanan dari sortiran hypermarket serupa Carefour, Giant, dll
4. Rice Cooker
5. Meja
6. Daun pisang



begitulah akhirnya saya mengirimkan kebutuhan-kebutuhan yang dimintanya. Semoga saya diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya saya dalam event tersebut. Insyaallah...

Wednesday, January 21, 2009

AKU MENJELAGA

aku menjelaga jingga
ada apa dengan senja yang menguning itu?

gelisah memampat pada aroma tubuhmu yang aduhai
kapan mendendangkan lagi lagu rindu?

aku
jelagaku

membakar sisa senja yang buram


BK39, 22 januari 2009 | 17:21
anggawedhaswhara

Saturday, January 10, 2009

Diplomasi Munafik ala Yahudi Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel

Diplomasi Munafik ala Yahudi
Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel

Paul Findley
(mantan anggota Kongres AS)

* * *


KLAIM-KLAIM ISRAEL ATAS PALESTINA

Israel mendasarkan klaim-klaimnya untuk mendirikan sebuah negara di Palestina atas tiga sumber utama: warisan Perjanjian Lama dari Kitab Injil, [1] Deklarasi Balfour yang diumumkan Inggris Raya pada 1917, dan pembagian Palestina menjadi negara Arab dan negara Yahudi yang direkomendasikan oleh Majelis Umum PBB pada 1947.


OMONG KOSONG

" Atas dasar hak alamiah dan hak kesejarahan kita... dengan ini [kami] memproklamasikan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Tanah Israel-Negara Israel ." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 1948 [2]

FAKTA

Menurut sejarah, bangsa Yahudi bukanlah penduduk pertama Palestina, pun mereka tidak memerintah di sana selama masa pemerintahan bangsa-bangsa lain. Para ahli arkeologi modern kini secara umum sepakat bahwa bangsa Mesir dan bangsa Kanaan telah mendiami Palestina sejak masa-masa paling kuno yang dapat dicatat, sekitar 3000 SM hingga sekitar 1700 SM. [3][4] Komisi King-Crane AS menyimpulkan pada 1919 bahwa suatu klaim "yang didasarkan atas pendudukan pada masa dua ribu tahun yang lalu tidak dapat dipertimbangkan secara serius." [5] Selanjutnya datanglah penguasa-penguasa lain seperti bangsa-bangsa Hyokos, Hittit, dan Filistin. Periode pemerintahan Yahudi baru dimulai pada 1020 SM dan berlangsung hingga 587 SM. Orang-orang Israel kemudian diserbu oleh bangsa-bangsa Assyria, Babylonia, Yunani, Mesir, dan Syria hingga Hebrew Maccabeans meraih kembali sebagian kendali pemerintahan pada 164 SM. Tetapi, pada 63 SM Kekaisaran Romawi menaklukkan Jerusalem dan pada 70 M menghancurkan Kuil Kedua dan menyebarkan orang-orang Yahudi ke negeri-negeri lain. Ringkasnya, bangsa Yahudi kuno menguasai Palestina atau sebagian besar darinya selama kurang dari enam ratus tahun dalam kurun waktu lima ribu tahun sejarah Palestina yang dapat dicatat --lebih singkat dibanding bangsa-bangsa Kanaan, Mesir, Muslim, atau Romawi.

Pada 14 Mei 1948, sekitar tiga puluh tujuh orang menghadiri pertemuan Tel Aviv di mana kemerdekaan Israel dinyatakan sebagai "hak alamiah dan historis." Namun para kritikus menuduh bahwa aksi mereka tidak mempunyai kekuatan yang mengikat dalam hukum internasional sebab mereka tidak mewakili mayoritas penduduk pada waktu itu. Sesungguhnya, hanya satu orang di antara mereka yang dilahirkan di Palestina; tiga puluh lima orang berasal dari Eropa dan seorang dari Yaman. Tegas sarjana Palestina Issa Nakhleh: "Minoritas Yahudi tidak berhak untuk menyatakan kemerdekaan suatu negara di atas wilayah yang dimiliki oleh bangsa Arab Palestina." [6]

OMONG KOSONG

" 'Sertifikat kelahiran' internasional Israel disahkan oleh janji dalam Kitab Injil ." --AIPAC,[*)] 1992 [7]

FAKTA

Klaim-klaim tentang dukungan ilahiah atas ambisi-ambisi kesukuan maupun kebangsaan sangat lazim ditemukan di masa kuno. Bangsa-bangsa Sumeria, Mesir, Yunani, dan Romawi semuanya menyitir wahyu-wahyu ilahi untuk penaklukan-penaklukan mereka. Sebagaimana dicatat oleh ahli sejarah Frank Epp: "Setiap fenomena dan proses kehidupan dianggap sebagai hasil campur tangan dewa atau dewa-dewa... bahwa sebuah negeri yang baik telah dijanjikan kepada bangsa yang lebih baik oleh dewa-dewa yang lebih tinggi." [8] Tidak ada pengadilan atau badan dunia di masa sekarang ini yang akan menganggap sah suatu hak pemilikan yang didasarkan atas klaim yang dinyatakan berasal dari Tuhan. [9] Bahkan bagi mereka yang mengartikan restu Injil secara harfiah sebagai restu dari Tuhan, para ahli Injil seperti Dr. Dewey Beegle dari Wesley Theological Seminary menyatakan bahwa bangsa Yahudi kuno tidak berhasil mematuhi perintah-perintah Tuhan dan karenanya kehilangan janji itu. [10]

OMONG KOSONG

" Hak [bangsa Yahudi untuk melakukan restorasi nasional di Palestina] diakui oleh Deklarasi Balfour ." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 1948 [11]

FAKTA

Deklarasi Balfour secara sengaja tidak mendukung pendirian suatu bangsa Yahudi. Deklarasi itu termuat dalam sebuah surat yang dikirimkan oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour kepada Lord Rothschild, presiden Federasi Zionis Inggris, pada 2 November 1917. Deklarasi itu telah disetujui oleh kabinet Inggris dan dikatakan: "Pemerintah menyetujui didirikannya sebuah tanah air bagi bangsa Yahudi di Palestina, dan berusaha sebaik-baiknya untuk melancarkan pencapaian tujuan ini, setelah dipahami secara jelas bahwa tidak akan dilakukan sesuatu yang dapat merugikan hak-hak sipil dan hak-hak keagamaan komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak-hak dan status politik yang dinikmati oleh bangsa Yahudi di setiap negeri lain." [12] Pada 1939 British White Paper secara khusus menyatakan bahwa Inggris "tidak bermaksud mengubah Palestina menjadi sebuah Negara Yahudi yang bertentangan dengan kehendak penduduk Arab di negeri itu." [13]

OMONG KOSONG

" [Palestina adalah] tanah air tanpa rakyat bagi rakyat [Yahudi) yang tidak bertanah air ." --Israel Zangwill, Zionis senior, c. 1897 [14]

FAKTA

Ketika Deklarasi Balfour diumumkan pada 1917 ada kira-kira 600.000 orang Arab di Palestina dan kira-kira 60.000 orang Yahudi. [15] Lebih dari tiga puluh tahun selanjutnya rasio itu menyempit ketika imigrasi Yahudi bertambah, terutama akibat adanya kebijaksanaan anti-Semit Adolf Hitler. Namun, menjelang akhir 1947 ketika PBB berencana untuk membagi Palestina, bangsa Arab masih merupakan penduduk mayoritas, dengan jumlah orang Yahudi mencapai hanya sepertiganya --608.225 orang Yahudi berbanding 1.237.332 orang Arab. [16] [17] Ketika Max Nordau, seorang Zionis senior dan sahabat Zangwill, mengetahui pada 1897 bahwa ada penduduk asli Arab di Palestina, dia berseru: "Aku tidak tahu itu! Kita tengah melakukan suatu kezaliman!"

Penduduk Palestina bukan hanya sudah ada di sana, mereka bahkan telah menjadi masyarakat mapan yang diakui oleh bangsa-bangsa Arab lainnya sebagai "bangsa Palestina." Bangsa itu terdiri atas golongan-golongan intelektual dan profesional terhormat, organisasi-organisasi politik, dengan ekonomi agraria yang tengah tumbuh dan berkembang menjadi cikal bakal industri modern. [18] Kata ilmuwan John Quigley: "Penduduk Arab telah mapan selama beratus-ratus tahun. Tidak ada migrasi masuk yang berarti dalam abad kesembilan belas." [19]

OMONG KOSONG

" Atas dasar... resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan ini [kami] memproklamasikan berdirinya sebuah Negara Yahudi di Tanah Israel --Negara Israel ." --Deklarasi Kemerdekaan Israel, 1948 [20]

FAKTA

Hanya karena tekanan kuat dari pemerintahan Truman sajalah maka Rencana Pembagian PBB diluluskan oleh Majelis Umum pada 29 November 1947, dengan perolehan suara 33 lawan 13 dan dengan 10 abstain dan 1 absen. Di antara bangsa-bangsa yang mengalah pada tekanan AS adalah Prancis, Ethiopia, Haiti, Liberia, Luksemburg, Paraguay, dan Filipina. [21] Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Sumner Welles menulis: "Melalui perintah langsung dari Gedung Putih setiap bentuk tekanan, langsung maupun tak langsung, dibawa untuk disampaikan oleh para pejabat Amerika kepada negara-negara di luar dunia Muslim yang diketahui belum menentukan sikap atau menentang pembagian itu. Para wakil dan perantara dikerahkan oleh Gedung Putih untuk memastikan bahwa suara mayoritas akan terus dipertahankan." [22]

Rencana pembagian, yang dinamakan Resolusi 181, membagi Palestina antara "negara-negara Arab dan Yahudi yang merdeka dan Rezim Internasional Istimewa untuk Kota Jerusalem." [23][24] Namun Majelis Umum, tidak seperti Dewan Keamanan, tidak mempunyai kuasa lebih dari membuat rekomendasi. Ia tidak dapat mendesakkan rekomendasi-rekomendasinya, pun rekomendasi-rekomendasi itu tidak mengikat secara hukum kecuali untuk masalah-masalah internal PBB. [25] Calon Menteri Luar Negeri Israel Moshe Sharett mengatakan bahwa resolusi itu mempunyai "kekuatan mengikat," dan Deklarasi Kemerdekaan Israel mengutipnya tiga kali sebagai dasar kebenaran yang sah bagi berdirinya negara itu.

Bangsa Palestina, yang memang berhak, menolak rencana pembagian itu sebab rencana tersebut memberikan pada bangsa Yahudi lebih dari separuh Palestina, meskipun dalam kenyataannya mereka itu hanyalah sepertiga penduduk dan hanya memiliki 6,59 persen tanah. [26] Di samping itu, bangsa Palestina berkeras bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak mempunyai hak yang sah untuk merekomendasikan pembagian jika mayoritas penduduk Palestina menantangnya. Sekalipun demikian, dengan menolak pembagian tidak berarti bangsa Palestina menolak klaim mereka sendiri sebagai suatu bangsa merdeka. Yang mereka tentang adalah negara Yahudi yang didirikan di atas tanah Palestina, bukan hak orang-orang Yahudi sebagai suatu bangsa.

Pemimpin Yahudi David Ben-Gurion menasihati para koleganya untuk menerima pembagian itu sebab, katanya pada mereka, "dalam sejarah tidak pernah ada suatu persetujuan final --baik yang berkaitan dengan rezim, dengan perbatasan-perbatasan, dan dengan persetujuan-persetujuan internasional." [27]

Salah seorang perintis Zionis besar, Nahum Goldmann, mengungkapkan sikap pragmatis dengan cara berbeda: "Tidak ada harapan bagi sebuah negara Yahudi yang harus menghadapi 50 tahun lagi untuk berjuang melawan musuh-musuh Arab." [28]

OMONG KOSONG

" Aslinya Palestina mencakup Yordania ." Ariel Sharon, Menteri Perdagangan Israel, 1989 [29]

FAKTA

Dalam sejarah panjang Imperium Islam/Usmaniah, Palestina tidak pernah berdiri sebagai suatu unit geopolitik atau administratif yang terpisah. Ketika daerah di Laut Tengah bagian timur antara Lebanon dan Mesir diambil alih oleh Inggris Raya dari Turki pada akhir Perang Dunia I, bagian-bagian tertentu dari apa yang disebut Palestina berada di bawah wilayah administrasi Beirut sementara Jerusalem menjadi sanjak, sebuah distrik otonom. [30] Daerah di sebelah timur sungai Yordan --Transyordan-- adalah, dalam kata-kata sarjana Universitas Tel Aviv Aaron Klieman, "sesungguhnya merupakan terra nullius di bawah kekuasaan bangsa Turki dan dibiarkan tanpa kepastian dalam pembagian Imperium Usmaniah." [31]

Dalam memulai mandat di Palestina atas nama Liga Bangsa-bangsa pada 1922, Inggris mendapatkan Palestina dan Transyordan ke arah timur hingga Mesopotamia, yang menjadi Irak. Sekarang wilayah yang sama berarti mencakup Israel, Yordania, Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Jerusalem. Pada Desember 1922, Inggris menyatakan pengakuannya atas "eksistensi suatu Pemerintahan konstitusional yang merdeka di Transyordan." Dan pada 1928 dinyatakan secara khusus bahwa Palestina adalah daerah di sebelah barat sungai Yordan. [32] Hanya di Palestina sajalah Inggris beranggapan bahwa janjinya dalam Deklarasi Balfour dapat diterapkan untuk membantu mendirikan suatu tanah air Yahudi.

Catatan kaki:

1 Lihat, misalnya, Kitab Kejadian 15:18, 'Pada hari itu Tuhan membuat perjanjian dengan Ibrahim melalui firman, 'Untuk keturunanmu Aku berikan tanah ini, dari sungai Mesir hingga sungai besar, sungai Efrat.'"

2 Ben-Gurion, Israel, 80. Teks deklarasi itu dicetak kembali di hlm. 79-81.

3 Bright, A History of Israel, 17-18. Lihat juga Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 953-70.

4 Epp, Whose land is Palestine?, 39-40. Juga lihat The New Oxford Annotated Bible, 1549-50; Beatty, Arab and Jew in the Land of Canaan, 85.

5 Grose, Israel in the Mind of America, 88-89. Kutipan-kutipan dari laporan Komisi King-Crane terdapat dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 213-18, dan Laqueur dan Rubin, The Israel-Arab Reader, 34-42.

6 Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 4.

*) AIPAC adalah American Israel Public Affairs Committe, lobi utama yang mendukung Israel di Amerika Serikat

7 Bard dan Himelfarb, Myths and Facts, 1.

8 Epp, Whose Land Is Palestine?, 38, 41.

9 Guillaume, Zionists and the Bible, 25-30, dicetak ulang dalam Khalidi, From Haven to Conquest. Lihat juga Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, 953-70.

10 Dewey Beegle, wawancara dengan penulis, 12 Januari 1984.

11 Ben-Gurion, Israel, 80.

12 Sanders, The High Walls of Jerusalem, 612-13.

13 Sachar, A History of Israel, 222.

14 Dikutip dalam Elon, The Israelis, 149.

15 Palestine: Blue Book, 1937 (Jerusalem: Government Printer, 1937), dikutip dalam Epp, Whose Land Is Palestine?, 144. Lihat juga Khalidi, From Haven to Conquest, Lampiran 1.

16 Perserikatan Bangsa-Bangsa, laporan subkomite kepada Komite Khusus untuk Palestina, A/AC al/32, dicetak ulang dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 675.

17 Sachar, A History of Israel,163.

18 Said et al., "A Profile of the Palestinian People," dalam Said dan Hitchens, Blaming the Victimis,135-37.

19 Quigley, Palestine and Israel, 73. Lihat juga Khalidi, Before Their Diaspora; Nakhleh, Encyclopedia of the Palestine Problem, terutama Bab 1 dan Bab 2.

20 Ben-Gurion, Israel, 80.

21 Sheldon L. Richman, "'Ancient History': U.S. Conduct in the Middle East since World War II and the Folly of intervention," pamflet Cato Institute, 16 Agustus 1991.

22 Welles, We Need Not Fail, dikutip dalam ibid. Lihat juga Muhammad Zafrulla Khan, "Thanksgiving Day at Lake Success, November 17, 1947;" Carlos P. Romulo, "The Philippines Changes Its Vote;" dan Kermit Roosevelt, "The Partition of Palestine: A Lesson in Pressure Politics," semuanya dalam Khalidi, From Haven to Conquest, 709-22, 723-26, 727-30, secara berturut- turut.

23 Teks Resolusi 181 (II) terdapat dalam Tomeh, United Nations Resolutions on Palestine and the Arab-Israeli Conflict, 1: 4-14.

24 Mallison dan Mallison, The Palestine Problem in International Law and World Order, 171.

25 Quigley, Palestine and Israel, 47.

26 Cattan, Palestine, the Arabs, and Israel, 29; John Ruedy, "Dinamics of Land Alienation," dalam Abu-Lughod, Transformation of Palestine, 125, 134; Said, The Question of Palestine, 98.

27 David Ben-Gurion, War Diaries, dikutip dalam Flapan, The Birth of Israel, 13.

28 Findley, They Dare to Speak Out, 273.

29 Sharon, Warrior, 246.

30 Ibrahim Abu-Lughod, "Territorially-based Nationalism and the Politics of Negation" dalam Said dan Hitchens, Blaming the Victims, 195.

31 Klieman, Foundations of British Policy in the Arab World, 68.

32 Ibid., 234-35. Lihat juga Fromkin, A Peace to End All Peace, 560.

Diplomasi Munafik ala Yahudi - Mengungkap Fakta Hubungan AS-Israel oleh Paul Findley Judul Asli: Deliberate Deceptions: Facing the Facts about the U.S. - Israeli Relationship by Paul Findley Terbitan Lawrence Hill Brooks, Brooklyn, New York 1993 Penterjemah: Rahmani Astuti, Penyunting: Yuliani L. Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124 Cetakan 1, Dzulhijjah 1415/Mei 1995 Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038

Friday, January 09, 2009

obrolan dengan Al-Ustadz Hilal Ramadhan...

Al Mukarom: bukankah itu yang diajarkan rasulullah? menasihati tidak di depan umum...
7:20pmHilal: ini kan zaman high tech dong
7:21pmAl Mukarom: alah... tidak konstekstual itu hightech2an...
7:21pmHilal: semua lini bisa dimanfaatkan sepanjang itu tdk diharamkan
heheh... rada kapitalis atauh meh keren
7:21pmAl Mukarom: si kehed tehh! bener eta mah... ngan soal menasihati didepan publik itu yang harus lebih hati2... afwan...
7:22pmHilal: betul... harus nyar'i lebih tepatnya mah
7:22pmAl Mukarom: bener ray... hal ini yang saya maksud.. mudah2an antum memahami sikap ana..
7:23pmHilal: btwi coba lihat statemen terakhir andri, dia sudah mulai terbuka
dia memang mengakui pemahaman Islamnya masih kurang. peluang da'wah dung,sok tah anyeuna bagian antum,
7:24pmAl Mukarom: tapi coba antum berempati sebagai andri... berapa besar gengsi yang dia jatuhkan untuk menulis hal itu... antum tahu sendiri andri...
7:24pmHilal: secara pribadi wehhh, heheh
tapi sy menghargai kebesaran hatinya
ketika tdk tahu dia mengakuinya
itu ciri orang yg berjiwa besar dung
7:25pmAl Mukarom: saya pun sangat menghargai itu... alangkah lebih okenya kalo antum secara pribadi menulis di wallnya soal hal ini... sekalian minta maaf kalo ada yang membuat dia tersinggung... itu lebih elegan...
7:26pmHilal: memang sy juga akan memberikan closing statemen dung
7:26pmAl Mukarom: jiga ente gelut jeung jelema terus meunang, tapi geus kitu musuhna ku ente diobatan... kitu kira2...
7:28pmHilal: btw keur dimana antum
7:44pmAl Mukarom: ana dikantor ustadz...
8:00pmAl Mukarom:ray... obrolan kita saya upload di blog saya ya?
menarik nih kayanya...
8:08pmHilal: sori tadi nganter si Ilham.. mo pulang ke bdg dia
8:10pmHilal: haha... silakan saja dung klo lah ada sedikit kebaikan yg bisa diambil
8:22pmAl Mukarom: insyaallah... ini judulnya tentang bagaimana menasihati secara syar'i..
hehehe...

Friday, January 02, 2009

Lelaki Itu Bernama Armand

Saya tak akan melupakan peristiwa ini dalam catatan akhir tahun 2008 saya..
Alkisah, saya berjalan-jalan ke BragaCitywalk dengan niatan hangout dan nonton film di 21 di sana.. peristiwa kedatangan dan kegiatan disana berjalan sebagaimana mestinya tanpa kurang satu apapun. Namun sepulangnya darisana ada yang menarik. Marilah saya ceritakan.

Seperti seharusnya motor parkir disana saya mengambil lantai B3 sebagai tempat parkir, artinya saya memarkir kendaraan dilantai terbawah gedung itu. Begitu usai saya membayar jasa parkir, saya mendapati motor saya tersendat2 seperti tanda habis bensin. Betul saja, jarum penunjuk menunjuk huruf E, damn! habis bensin. Tapi sebagai seorang yang pantang menyerah, sehabis memiring2kan motor kemudian stater motor saya tekan lagi hingga menghasilkan raungan motor yang tersenggal-senggal. "Ok, mau maju nih... segera ke pom bensin..", ujarku dalam hati.

Namun, apatah daya baru sampai di B1 motor sudah mati lagi. Segenap daya upaya saya lakukan lagi, namun tiadalah hasil yang berarti. Hingga akhirnya seorang petugas parkir menghampiri.

"Kenapa kang?", tanyanya langsung setelah tersenyum

"Abis bensin kang.. saateun pisan... didorong, tapi masih aya 2 lantai lg nya?"

"Mau saya anter beli atuh kang? pake motor saya?"

saya diam, bertanya dalam hati namun tak berucap.

"Ga apa-apa?"

"Ga apa-apa... motor saya dibawah kang..", sambil berlalu dan saya terkaget-kaget olehnya..

Sampai di B3, saya masuk lagi diparkiran. Terlihat si akang tadi sedang mempersiapkan motornya.

"Mangga, ini kuncinya.."

Saya masih bingung..

"Akang percaya sama saya?"

"Sok aja.. santailah saya mah..."

Saya masih ga percaya ini orang ngasih pinjem motornya sama yang baru dia kenal.

Biar dia tenang juga minjemin motornya sama saya, saya kasih kunci dan stnk motor saya. Dan sambil ngasih saya masih ga percaya ada orang yang percaya ngasih motornya sama orang yang baru dikenalnya.

Pas keluar, petugas jaga pintu bertanya pada saya?

"Kakaknya Armand?"

"Oh, bukan... baru kenal barusan juga"

Lelaki itupun bingung dan seolah tak percaya mempersilahkan saya beranjak dari sana.

Bergegas menuju Jalan Naripan akhirnya saya menemukan pom bensin, setelah sebelumnya membeli kemudian menyiram pohon oleh air dari botol air mineral yang baru saya beli demi mendapatkan botol bagi sang bensin.

Sepulangnya, lelaki yang akhirnya saya ketahui bernama Armand itu menghampiri saya yang akhirnya berhasil mendapatkan sebotol bensin dan mengisikannya pada motor saya.

"Hatur nuhun Kang Arman..", seraya memberkan kunci, STNK, dan selembar uang utnuk mengganti bensin motornya yang lupa buat saya isi bensin

"Naon ieu? teu kedah atuh kang..", sambil mengembalikan lagi lembaran uang yg saya berikan

"Ieu mah kangge ngagentosan bensin motorna kang..", saya masukan uang itu pada saku celanyanya..

"Eh, nuhun atuh nya..."

"Sami-sami kang, saya nu kedahna nuhun ka akang", sambil berpikir dan tetap tidak percaya da orang yang percaya ngasih motor dan stnknya pula sama orang yang baru dikenalnya.

Kemudian saya menjadi terharu. Dan terus bergema dikepala saya.

"Laki-laki itu bernama Armand", kata gema dikepala saya

Laki-laki itu bernama Armand.

Laki-laki itu bernama Armand.


Wednesday, December 17, 2008

Kebahagiaan yang tertunda!

"jadi 2 bulan terkhir ini sy tengah tergila2 dengan facebook.. gila! betapa alat social networking ini benar2 banyak guna dan mangpaatnya... juga tentu saja banyak bisanya... dari yang halal dan barokah sampe yang haram dan banyak madharatnya...

mungkin banyak yang cuma menggunakannya buat bersenang2 saja.. namun tenyata banyak juga yang menggunakannya untuk hal yang bermanffat...

terberkatilah facebook..

bahkan sekarang kita bisa ngeblog dari facebook! seperti yang saya lakukan sekarang..."

(tulisan diatas dari blog yang saya posting dari facebook bertanggal 16 Desember 2008)

TERNYATA TIDAK! saya tertipu.. ternyata meski postingan blog itu tampil di facebook namun dia tidak tampil dihalaman blog aslinya.. entahlah, memang seperti itu atau saya yang tidak mengerti cara menggunakannya... yang pasti ternyata konsepsi web 2.0 itu emang edanlah! kita bisa seharian didepan komputer tanpa ngerasa lelah, cape dan autis...

Nah, semoga saja konsepsi ini semakin berkembang dan menggila saja... hingga kemudian nanti saya bisa melakukan segala aktifitas di jagat maya hanya dengan menggunakan satu website saja...

Ahhhhh... ngomong apaan sih?!

Monday, December 08, 2008

Heaven For Insanity

Batal mengunjungi Jiffes 10th mungkin adalah satu hal yang paling menyebalkan di akhir tahun ini. Terserang flu berat yang menyebalkan serta beberapa pekerjaan kejar tayang adalah penyebabnya. Kenapa Jiffest 10th kerasa penting buat saya?

Pertama
, Ada 3 film temen yang diputer; Heaven For Insanity-nya Dria, The Last Journey-Endah WS, dan JaliJoni-nya Isha Hening. ketiganya temen di Scrip Develompent Competition 2007.

Kedua
, Gosip dari sana-sini kalo ini bisa jadi Jiffest terakhir.


Ketiga, kegagalan menyelesaikan film Wheelchair Story hingga tak jadi dikirim ke festival ini hingga persoalan kegagalan mengirimkan script buat Scrip Develompent Competition 2008.

Tapi apa mau dikata. "Tak terbantahkan", meminjam terminologi seorang teman.

Walhasil, googling adalah solusi terakhir daripada henteu pisan. Setelah tersesat kesana-kemari, akhirnya sampailah pada satu temuan tentang film-nya Dria. Sial! ini film yang sebenarnya pengen banget sy tonton. Karena menurut gosip, film ini di support banget sama Leonard dan Orlow, dua filmaker bule yang concern banget sama Jiffest.


Gagal menyaksikan filmnya, sy cuma dapet video liputannya dari Liputan6.com. Nih!





Daripada tidak sama sekali... selamat menyaksikan dan menyiksakan!

Tuesday, December 02, 2008

Setelah membuat blog Ilmuwan Kecil

Alhamdulillah... akhirnya selesai juga membuat blog Ilmuwankecil. blog ini adalah proyek masa depan saya dan kekasih saya. Blog ini berisi Percobaan-percobaan sederhana dengan target market pelajar sekolah dasar.

Ide awalnya sih, bagaimana caranya biar anak-anak SD di Indonesia bisa tahu tentang fenomena science yang bisa dipraktekkan dengan peralatan sederhana. Niatan besarnya adalah pengen bikin hobby group SIMPLE SCIENCE buat anak-anak yang pastinya edukatif. Kaya semacam KIR lah kalo di SMA.

Setelah otak-atik sana-sini dan hunting template kesana-kemari akhirnya dapet juga template yang asik dan cocok. Dipoles dengan sedikit skill html akhirnya blog ini selesai. Sekarang giliran Bu Guru Rindu yang ngurusin contentnya..

Akhirnya semoga ini bisa jadi kenyataan dari mimpi besar kita berdua bu guru!

Related Posts with Thumbnails