malam ini saya kesulitan tidur... kenapa? bukan kenapa... tapi bagaimana bisa? ya... karena banyak yang "mengganggu" kepala saya semenjak malam pembukaan JARF 2010 ini. Oh ya, saya rasa tak perlulah berkisah banyak tentang apa itu JARF, kawan-kawan bisa klik laman ini . Singkatnya adalah sebuah sebuah festival 2 tahunan yang digagas oleh kawan-kawan dari JATIWANGI ART FACTORY .
Seperti layaknya sebuah festival yang memerlukan proses residensi, pastilah diawali dengan sebuah malam pembukaan. Pada JARF ini pembukaan festival diadakan di Desa Loji, dimana saya adalah salah satu dari tiga seniman yang ditempatkan di desa tersebut. Lainnya adalah Handi Hermansyah yang juga dari Bandung dan Ghazi Alqudcy dari Singapura.
ah... nanti saya lanjutkan... karena e karena... saya ngantuk... dan batal kesulitan tidur... padahal masih ada yang mengganggu dibenak saya... ya... besok saja saya lanjutkan...
seni itu untuk kehidupan, dia harus bisa memanusiakan manusia. jika seni untuk seni (art for art), untuk apa? mungkin itu sama seperti makan untuk makanan.
Ya, what your art are for?
Pertanyaan ini terus mengganggu keseharian sejak beberapa tahun terakhir ini. Mungkin sejak 2006 atau 2007. Saya, lupa pastinya. Yang jelas sejak saya membaca wawancara disalah satu harian terkemuka dengan KH. Mustofa Bisri. Ditanyalah dia oleh wartawan dalam sebuah artikel yang berbentuk tanya jawab. Pertanyaannya kira-kira begitulah. Tentang apa guna seni bagi beliau. Dan dijawablah dalam wawancara itu. Bahwa seni itu harus untuk manusia. Ya, kira-kira seperti yang saya tulis sebagai pembuka tulisan ini jawabannya.
Dan begitulah. Berbulan-bulan, bahkan sampai menahun sejak hari itu. Pertanyaan si wartawan tadi terus menerus mengganggu pikiran saya. Tapi, meski begitu saya tetap saja melakukan aktifitas berkesenian dengan mengikuti apa yang KH. Mustifa Bisri jawab pada pertanyaan itu. Sebab saya juga adalah seniman yang menganggap art for art adalah nonsense. Tanpa bermaksud sok pintar, atau balaga. Sebab apalah saya, seniman yang sama sekali tak punya latar belakang pendidikan formal kesenian. Bahkan kehadiran saya di jagad kesenian pun –dalam hal ini performance art—menjadi sebuah pertanyaan. Terlebih soal konsistensi kekaryaan dan bentukan kekaryaannya sendiri. Meski saya pernah ambil pusing mengenai hal itu, toh kemudian saya tetap keras kepala. Hinga akhirnya beberapa media meliput karya-karya saya. Bahkan kalo boleh berbangga, sepengetahuan saya. Sayalah satu-satunya performer artist muda yang karya performancenya menjadi cover sebuah tabloid mingguan di kota Bandung, meski hanya sebuah tabloid gratisan. Itu juga mungkinkarena fotografernya saja yang sukses mengambil gambar yang keren.
--- loh kenapa tiba-tiba tulisan ini menjadi sedikit keluar dari seharusnya? oke, kita luruskan lagi—
Kembali ke konteks dimula. Saya jadi ingat obrolan saya beberapa tahun kebelakang dengan Kang Arief Yudi dalam sebuah perjalanan pulang dari Kuala Lumpur selepas kami berdua turut serta dalam acara Notthatbalai Art Festival. Dimana? Ya disana, di Kuala Lumpur. Jika tidak salah ingat saat itu aktifitas di JAF masih pada tahap awal. Beliau bercerita tentang apa yang ingin diperbuatnya di kampung halamannya itu. Juga tentang apa-apa saja mimpi beliau bagi komunitas yang sedang dirintisnya itu. Hingga sampai pada kesimpulan akhir pembicaraan bahwa seni itu harus menjadi senjata untuk mensejahterakan masyarakat. Sejahtera disini dalam artian yang sangat luas. Sejahtera pengetahuan, sejahtera jiwa, sejahtera kehidupan, juga tentu saja sejahtera secara kehidupan. Bahwa seni itu harus untuk kehidupan yang lebih baik. Seni harus menjadi alat pemenuhan “dahaga” manusia. Jadi bukan seni untuk seni. Cocok! ini cocok dengan premis saya yang mengatakan non sense untuk art for art. Juga senada dengan apa yang dikatakan KH. Mustofa Bisri yang saya tuliskan dimuka.
Setelahnya. Saya masih tetap berkesenian. Masih keras kepala membuat karya performance art, meski diri ini masih saja diliputi pertanyaan, “what your art are for?”. Parahnya kekeras kepalaan saya mengakibatkan pertanyaan itu menjadi sesederhana, “buat apa kamu makan?” “ya buat memenuhi kebutuhan hidup”. begitulah akhirnya saya memandang kesenian yang saya jalani. Sekedar pemuas “lapar” , atau bisa jadi sekedar “haus tepuk tangan” –meminjam terminologi yang pernah diucapkan Ageng Purna Galih pada saya-. Dan saat itu saya tidak berpikir ada yang salah dengan itu. Sah-sah saja rasanya.
Hingga pada akhirnya saya diundang untuk ikut serta dalam 2nd International Performance Art in Residency yang diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Event –pake “e” bukan pake “i”- performance festival yang didahului dengan proses short residency selama satu minggu. Sebuah performance art festival yang benar-benar baru bagi saya dalam proses penciptaan karya. Setiap seniman yang diundang tidak membawa karya yang sudah jadi. Tapi lebih pada membawa karya “mentah” untuk kemudian di kaitkan dengan konteks lokal di Jatiwangi. Seniman dipaksa berinteraksi dengan masyarakat lokal dengan cara tinggal di rumah penduduk setempat untuk kemudian menggali “potensi” untuk seniman mensinergiskan karya “mentah”nya dengan konteks lokal. Kira-kira seperti itulah prosesnya berlangsung. Yang pada akhirnya saya baru tahu dari Juliana Yasin, bahwa event itu bukan performance art festival tapi lebih sebagai short residency festival.
Yang terjadi pada saya saat itu adalah tinggal dengan seorang petani. Saya datang tanpa tahu akan melakukan apa. Benar-benar mentah. Tapi kemudian pada detik-detik harus mempresentasikan karya, akhirnya bisa juga. Saat itu yang terjadi adalah saya benar-benar menikmati proses “penciptaan” karya. Saat itu saya mengalami membuat karya performance art yang benar-benar “dekat” dengan peristiwa. Mungkin saya terlambat. Banyak seniman yang telah melakukannya. Tapi kalo bicara mengenai diri saya, mungkin ini karya yang benar-benar saya temukan “klik” nya setelah karya Wheel Chair Story . Yang pasti saat itulah karya performance art saya menjadi terasa benar-benar “hidup” tak sekedar “hadir”.
Saat itu untuk ketigakalinya setelah peristiwa membaca wawancara dengan KH.Mustofa Bisri dan perjalanan pulang bersama Kang Arief Yudi. Saya benar-benar yakin bahwa seni itu bukan sekedar seni. Dia tak sekedar “hadir” tapi harus juga “hidup”.
Tapi bukanlah manusia jika imannya tidak “yazidu wa yan kudzu” –naik dan turun--. Setelah itu saya kembali membuat karya yang akhirnya hanya sekedar hadir. Tidak menjadi hidup. Meski untungnya tak sebanyak sebelumnya. Mungkin atas kesadaran bahwa karya itu harus “hidup” bukan sekedar “hadir” akhirnya saya cukup sering menolak undangan untuk performance. Jika meminjamkan istilah Agung Jek tadi malam, saat itu saya tidak ingin menghambur-hamburkan peluru.
Begitulah, sekedar pembuka catatan ini.
***
Karya, dalam pemikiran saya saat ini haruslah bisa hidup. Dia tidak sekedar ada, tidak sekedar menjadi. Tapi harus menciptakan peristiwa. Dia harus meruang, harus hadir sebagai sebuah mesin cetak sejarah. Mungkin bagi beberapa orang sudah. Mungkin juga bagi beberapa orang lainnya terlalu angkuh jika kita memposisikan seni seperti itu. Persetan saya pikir. Bukankah ini sedang membicarakan seni dalam pandangan saya? jadi, terserah saya saja.
---ko jadi terlalu serius?, baelah... –
Saya ingat pertanyaan Muktimukti pada peluncuran buku Kumpulan Puisi Ziarah Kata di GIM, yang mana dalam buku itu salah satu karya puisi saya disertakan.
“Lalu, setelah puisi selesai ditulis, lalu dibukukan, selanjutnya apa?”
“Dibaca”, jawab saya dengan naifnya.
“Setelah dibaca?”
“Orang mengerti”, jawaban naif nomor 2.
“Setelah itu lalu apa? apa gunanya buat orang yang membaca?”
“...”
“Seharusnya seniman itu bisa hadir di kehidupan nyata”, sambungnya
“Dia harus bisa berkontribusi bagi masyarakat, bukan sekedar seni untuk seni. Dia harus ada disana, memposisikan diri disana. Menciptakan persitiwa.”, katanya lagi.
“Bukan sekedar ada, dia juga harus hidup”, sahut saya sambil terus berpikir. Sementara didepan saya Frino Bariarcianur menjadi MC, dan Soge Ahmad murtad jadi fotografer.
Ya, pertanyaan Muktimukti akhirnya menjadi pencongkel nomor empat dalam kegelisahan saya.
***
Semalam, Alinalin Alunalun bercerita pada saya tentang bagaimana seorang Marina Abramovic mempersiapkan karyanya. Konon katanya, 1 bulan sebelum dia mempresentasikan karya performance artnya dia akan melakukan “puasa”. Hingga pada saat performancenya dilakukan dia dalam kondisi benar-benar lapar, dimana katanya dalam keadaan seperti itu keadaan seseorang dengan penciptanya sangatlah dekat –masih kata Alinalin Alunalun–
Begitupun Agung Jek bercerita tentang proses yang akan dilakukannya akhir tahun ini di Hanover, Jerman, untuk membuat satu karya performance dia harus melakukan brainstorming dan riset selama lebih dari 3 bulan lamanya. Hmmm, sementara banyak dari kita yang ketika diundang performance disuatu tempat, sontak saja mengatakan kesediaannya. Meski belum tahu mau bikin apa. Yang penting ada dulu di publikasi. Mungkin saya salahsatunya. Kasihan saya.
Bahkan banyak seniman yang secara kuantitas sangat sedikit membuat karya, tapi masing-masingnya memiliki efek ledak yang dahsyat. Baik secara kualitas kekaryaan, politik ruang, hingga politik waktunya di pikirkan masak-masak dalam sebuah riset yang tajam, dengan premis yang mantap. (hmmm, apa ini?)
Saya teringat juga obrolan saya dengan Frino Bariarcianur di Jatiwangi pada suatu masa.
“Bang, kapan bikin performance lagi?”, tanya saya
“Saya belum tahu mau bikin apa lagi”, jawabnya datar
“Wah, sayang bang. Padahal karya jalan mundur itu nampol banget bang!”
“Justru karena itu ngga, sy belum bisa lagi bikin karya semacam itu. Semacam trauma saya ngga. Sebab selepas performance it say ga bisa jalan normal sampai 3 hari lamanya.”, Frino mengaburkan jawaban seakan enggan menjawab dengan sejujurnya. Meski akhirnya saya hanya bisa menebak-nebak saja apa yang ada dikepalanya. bahwa dia sedang mempersiapkan karya monumental selanjutnya.
Saya ingat lagi pada obrolan dengan Muktimukti dalam acara peluncuran buku itu.
“Mungkin karyanya ga akan pernah selesai-selesai ngga, tapi catatan kakinya sudah banyak menyimpan peristiwa.”
“Ya, begitulah seharusnya karya seni”, saya pikir
“Dia harus HIDUP! bukan sekedar hadir”, teriak saya dalam hati.
***
Semalam, akhirnya saya utarakan pada AgungJek dan Alinalin Alunalun soal kegelisahan ini. Jawabannya adalah saya membatalkan keikutsertaan saya dalam performance art event yang akan dibuat pada tanggal 29 Mei ini di Pusat kebudayaan Cigondewah milik Tisna Sanjaya. Bukan karena saya tak tahu mau bikin apa. Tapi mungkin lebih pada pertanyaan. “Lalu setelah performance saya di presentasikan apa?”. Juga selain lebih baik saya berkonsentrasi pada apa yang akan saya lakukan di Jatiwangi tanggal 24 Juni – 9 Juli 2010 di acara Jatiwangi Art Residency Festival 2010 yang akan diadakan oleh Jatiwangi Art Factory. Komunitas seni yang mengajarkan banyak hal pada saya.
***
Akhirnya, jika Aminudin T.H. Siregar –kalo ga salah-- dalam sebuah harian mengatakan bahwa sebelum menjadi performer artis, hendaknya seniman belajar menggambar dulu. Saya berkata kemudian. Sebelum mebuat karya seni hendaknya seseorang belajar hidup dulu.
Ah, ngelantur saya. Kayak orang yang ngerti seni saja.
Yang pasti, saya sedang menceritakan saya. Bukan siapa-siapa. Jadi, kalo ada yang tersinggung, itu bukan urusan saya. Wong saya sedang menceritakan saya, bukan siapa-siapa.
Mendapat e-mail dari sahabat lama saya, Ferial Afif. Seorang performer artist yang kini bermukim di Jogja. mengundang saya untuk turut serta dalam Asian Youth Imagination 2, yang akan mengundang beberapa seniman muda pelaku performans di Asia yang mayoritas kelahiran tahun 80an. Dilaksanakan pada 28 Februari - 11 Maret 2008 di Jogja Gallery.
Akhirnya saya harus mengirimkan Konsep Karya dan menjawab beberapa pertanyaan seperti berikut,
Deskripsi mengenai kamu secara pribadi/personal (10 baris)? Saya lahir dan dibesarkan di Bandung sejak tanggal 15 Januari 1983. Menyelesaikan pendidikan pada program Studi Agronomi Fakultas Pertanian Unpad. Saya adalah seorang performer artist yang aktif mempresentasikan karya perfomance art sejak tahun 2003. Sejak menyelesaikan kuliah pada awal tahun 2007, saya mulai intens untuk mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan, dunia pertanian, revolusi hijau, dan politik pangan dalam karya-karya performance art saya dengan kesadaran “hutang profesi”. Terlahir dalam keluarga yang “nyantri” , adalah sebuah tantangan bagi saya karena aktifitas kesenian yang saya lakukan sering dianggap “aneh” oleh keluarga. Namun hal itu yang akhirnya membuat saya banyak belajar bagaimana mendekatkan seni dan masyarakat dan akhirnya memikirkan cara bagaimana seni yang saya buat menjadi “mudah” bagi orang-orang.
Sejarah singkat sampai akhirnya mengikuti/melakukan performans (10 baris)? Awal ketertarikan saya pada kesenian dimulai sejak bergabung dengan Teater Ah SMU Negeri 1 Bandung pada tahun 1998. Bosan dan jenuh bermain teater “konvensional”, pada tahun 2003 saya memastikan diri untuk menjadi seorang performance artist setelah turut serta dalam Bandung Performance Art Festival #2, lalu terpilih untuk berpartisipasi pada 2nd IAPAO Meeting . Karya performance art saya pernah di presentasikan di Bandung, Garut, Jakarta, Jogjakarta dan Malang baik di ruang public, kampus maupun di ruang kesenian. Tahun 2006 saya terpilih sebagai seniman yang mempresentasikan karyanya di Bandung New Emergence Volume 1. Pada tahun 2007 saya di undang untuk mempresentasikan karya performance art di Notthatbalai Art Festival, Kuala Lumpur. Sejak menyelesaikan kuliah pada awal tahun 2007, saya mulai intens untuk mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan, dunia pertanian, revolusi hijau, dan politik pangan dalam karya-karya performance art saya dengan kesadaran “hutang profesi”. Terakhir mempresentasikan karyanya pada 2nd Jatiwangi Arts Festival – International Performance Art in Residence, Agustus 2008.
Siapa yang menjadi inspirasi kamu dalam hidup? STEVE JOBS dan para petani
Konsep dan rencana karya Judul : FOOD FOR RESISTANCE
Konsep : Mari makan dan melawan!
Plot :
1. Arena berbentuk seperti dapur. Saya sudah siap dengan perlengkapan masak dan bahan2 makanan.
2. Lalu saya akan sedikit bercerita tentang bahan2 makanan yang akan saya olah ini darimana asalnya.
3. Sembari bercerita tentang bahan2 makanan itu saya akan membuat bentukan-bentukan serupa senjata untuk kemudian di foto masing-masingnya.
4. Bentukan-bentukan itu kemudian saya olah menjadi makanan siap santap untuk kemudian di santap bersama-sama audience.
5. Selesai!
Material :
1. Seperangkat kompor gas pembagian pemerintah.
2. Wajan, pisau, dan alat masak penunjangnya.
3. Bahan2 makanan dari sortiran hypermarket serupa Carefour, Giant, dll
4. Rice Cooker
5. Meja
6. Daun pisang
begitulah akhirnya saya mengirimkan kebutuhan-kebutuhan yang dimintanya. Semoga saya diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya saya dalam event tersebut. Insyaallah...
dari atas pesawat sudah nampak kumpulan pohon sawit yang berkumpul rapi mirip rumput sintetis dilapangan futsal... pagi itu malaysia hujan, nampak dari kumpulan pohon yang berkilauan dan getaran pesawat yang menabrak awan tebal yang bikin deg-degan... akhirnya pesawat landing dan benar saja hujan turun sbelumnya dan udara masih dingin....
ini adalah pengalaman pertama guah ke luar negeri... deg2an juga bingung gimana cara masuk negara orang, yang akhirnya membuat guah mengandalkan intuisi belaka.. turutlah mengantri masuk bersama rombongan beberapa orang indonesia yang turun dari pesawat yang sama.. yang heran, tak seperti penumpang lain guah dan beberapa orang indonesia dikumpulkan disuatu tempat dan diberi pengarahan... pokoknya tentang malaysia dan bekerja dimalaysia... damn! ternyata guahsalah barisan dan dikira tki yang mo kerja di Indonesia... buat guah dugaan itu sih tak jadi soal hanya ternyata guah jadi sadar bahwa sedih banget jadi orang indonesia di malaysia... selalu dituduh mau bekerja dan dicurigai sampe2 dibandara perlu didata dulu... sial!
persoalannnya akhirnya selesai dengan menunjukkan surat undangan dan guah keluar dari "pengarahan" tak penting itu untuk mengurus segala sesuatunya sendiri... dan ketika sampe di counter imigrasi masih ditanya2 lagi tentang apakah guah datang buat kerja? damn! guah emang mau kerja... pekerjaan guah seniman dan guah datang karena diundang... GUAH DATANG ATAS PERMINTAAN SENIMAN MALAYSIA! tetep ajah guah dicurigai sebagai tki ilegal, hingga akhirnya guah tunjukkan tiket buat pulang tanggal 8 ke Indonesia barumereka bertanya "oh, mau melancong ya?", urang ngguk we tanda setuju padahal dina hate ambek jeung hayang ngagorowok "aing diondang ku bangsa maneh datang ka dieu!"
setelah ngambil bagasi masuklah guah ke pemeriksaan terakhir.. dan sambil memasang wajah garak si pemeriksa bertanya "passportnya mana?", guah tunjukkan lah buku kecil hijau bergambar garuda didepannya. dan lelaki itu bertanya lagi,
"sial! dia sangka bener..." sahut guah dalam hati sambil males benar komentar lagi... namun untung urusan disini tak terlalu panjang...
nah, ternyata gua liat juga yang namanya KL... ternyata kotanya ga terlalu spesial... hampir mirip Jakarta... tapi sedikit lebih tertata.. tapi tetep aja secara kota besar, macet...
disini guah tinggal di Lost Generation Space! tempat kumpul, studio, sekaligus galery seniman muda disini... dan guah tinggal dikamarnya poodien... he's a nice guy! he's really help me to make my journey is possible... thanks bro! (hehehe,kitu lain bahasa inggrisna?)
belum banyak yang guah kerjain, selain jalan ke anexxe galery di central market buat liat venue performance guah dan kemaren sore main ke Gudang liat mas Samuael Indratma dari jogja lagi workshop buat karya muralnya bareng seniman2 muda lokal... malemnya karena capek dan ngantuk akhirnya langsung balik ke Lost Generation untuk langsung tidur... tapi ternyata disini banyak orang... damn! belum lagi bau "rumput" yang mengganggu namun tak terhindarkan...
segitu dulu dongan lawatan hari pertama guah... masih banyak dongeng... ada tentang rombongan sirkus keren yang tinggal bareng guah di Lost Generation... dan banyak lagi lainnya...
BTW, malem ini guah baca puisi di BAU BAU CAFE di central market.... what? baca puisi? yup! puisi guah sendiri tentunya... :)) malu gini! secara di Indonesia ga pernah baca puisi hadapan publik begini... tapi baelah! negong! mumpung ka luar negeri... iraha deui....
Peun ah! piduana we ti sadayana... mugi tiasa dugi deui di bandung ping 8 agustus....
asik uing jadi euy ka malaysia isukan.. ayeuna keur pesen tiket... membawa nama indonesia dalam tanda kurung di belakang nama kita ternyata asa gagah.... tapi biasa wae lah... nu penting cita2 tertinggi performer artis terlaksana.. :)) c u in kl!