welcome itu selamat datang
di blog anggawedhaswhara
untuk mengunjungi websitenya,
silahkan scan QR-Code berikut

whatyourart

enter itu masuk

Wednesday, November 04, 2009

...

aku tak pernah merasa sebahagia
selain saat kau tertawa dan bersamamu...

aku tak pernah merasakan kedamaian
melebihi yang kau berikan saaat menyayangi aku...

(FAJAR ABADI)

Monday, October 19, 2009

CATATAN RINDU DARI DIES EMAS FAPERTA UNPAD

Mentari menyala disini
Disini didalam hatiku
Gemuruh api nya disini
Disini diurat darahku


Sore itu hujan lebat mengguyur kota Bandung, hujan yang sekejap sempat mengurungkan niat saya mengarahkan kemudi ke Jatinangor, bagian kota kecil dimana Pangeran Kornel pernah menyalami Deandles dengan tangan kirinya seraya tangan kanan menggengggam kepala keris. Untunglah seorang Achdya Kusuma yang baik hati tak sedikitpun ragu menjemput saya untuk melanjutkan perjalanan yang sempat saya urungkan.

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang mampu menghalangimu
Menyala di dalam hatiku...


Ya, sore itu di Jatinangor tengah berlangsung perhelatan Dies Natalies 50th Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Entah apa sesungguhnya yang menguatkan niat saya berkunjung kesana. Meski saya tak terlalu yakin akan ada kawan-kawan satu angkatan saya yang hadir disana. Tapi, takdir takkan mengubah ketentuannya akan hal ini. Sore itu tepal pukul 5 saya menginjakan kaki di kampus itu lagi, kampus yang lama tak saya sambangi, kampus yang memberi arti besar dalam kehidupan saya. Kampus yang telah mengajarkan tentang arti kebersahajaan. Kampus yang telah memberikan takdir jodoh juga pada saya. Kampus yang hari ini telah berubah menjadi kampus yang cantik, sehingga basahnya air hujan menjadikan langit sore itu tampak manis sekali.

Walhasil berjumpalah saya dengan Fikri Rabbani yang ternyata masih setia menanti senja yang lembut di Jatinangor, kemudian saya bertemu Budian Sahala dan Jacko, kawan-kawan muda yang tampaknya masih betah di kampus yang telah menjadi sangat berbeda itu. Berbincanglah kita tentang kerinduan dan kabar-kabar, sebuah sapa yang berkesan basa basi tapi bermakna besar ketika terucapkan sore itu. Tak lama dari kedatangan saya, Abah Iwan Abdurrahman datang seorang diri saja. Tumben.

“Damang bah?”, sapa saya pada Abah sembari bersalaman

“Alhamdulillah”, jawabnya dengan keramahan yang sama

“Teu sareng Kang Eric?”, tanya saya lanjut, sebab biasanya Abah hadir bersama kang Eric Martialis.

“Henteu, Kang Eric tos tipayun... “ begitu jawab Abah sembari mengisi buku tamu lalu dilengan kanannya disematkan pita berwarna hijau.

“Abah tipayun nya ngga, tos diantosan diluhur...”, sembari menunjuk gedung Dekanat.

“Mangga bah”, jawab saya yang tengah direcoki marketing kartu kredit berkedok kartu alumni Unpad.

“Maaf mbak, tapi saya ga suka pake kartu kredit. Riba mbak, riba.”, jawab saya pada si mbak berkerudung yang telah berbicara panjang lebar.

Dengan pita hijau tersemat dilengan kanan dan nametag tergantung didada pemberian kawan-kawan 2009 saya bergegas menuju gedung 5. Ya, gedung 5. Gedung yang telah menghisap sebagian besar hidup saya di Jatinangor. Ditangga gedung itu menuju plasa, sekilas tampak bayangan 3-8 tahun yang lalu. Bayangan kawan-kawan menjuari Sepak Bola Ria, bayangan Kawan-kawan Kotakhijau berdiskusi tentang apa saja, juga bayangan kebersamaan dan rindu yang dimuntahkan dalam kilasan-kilasan foto masa silam. Hmm... senja itu untuk pertamakalinya saya bersama Fikri Rabbani merasakan nostalgia yang mesra.

Magrib dikejauhan terdengar lamat-lamat tepat disaat saya berjumpa dengan Jiun, Opik, Ebes, Gelar, dan beberapa kawan-kawan The Docs yang dikomandoi Eri Mochtar. Hmm... Nostalgia tercipta lagi... pertanyaannya masih sama tentang kabar dan kabar yang sama sekali tak terdengar basa-basi, bahkan lebih terkesan sapaan rindu yang dalam. Lalu berkenalanlah saya dengan anak muda bernama Goro seorang wakil ketua Himagro yang mengajak saya berbincang pendek tentang Food Not Bomb, lalu Food For Resistance. Sore itu bergeser dari obrolan rindu menjadi persoalan pangan yang runyam. Persoalan pangan yang tak kunjung usai, meski 50 tahun sudah Fakultas Pertanian Unpad dengan gagah berdiri di tanah pertiwi ini. Hmm... romantisme menjadi paradoks yang runyam. Hingga tercetus janji saya untuk berbagi dengan lebih panjang persoalan ini pada kawan-kawan Himagro. Tanpa ragu sedikitpun, sore itu dengan diiringi kumandang adzan saya memberikan kartu nama saya pada Goro sebagai pertanda saya siap kapan saja untuk diajak berdiskusi tentang apa saja.

Selepas menunaikan solat maghrib lalu saya jumpai Nonon ada disana juga, kemudian Budidaya Unpad 2001 menjadi 3 oranglah sore itu. Dengan ditemani sajian makan malam, saya, Fikri, dan Nonon kemudian berbicara tentang segala ditemani Pak Ranu, Pak Nana, dan Pak Ading. Tiga orang lelaki yang memiliki jasa cukup besar bagi kawan-kawan mahasiswa Fakultas Pertanian dia era saya, bahkan konon sampai hari ini. Jika boleh saya mengutip istilah Abah Iwan Abdurrahman mereka inilah “Akar”. Ya, mereka inilah akar pohon-pohon yang banyak dilupakan, tersembunyi dari cerita atau lagu. Jangankan lagu, bahkan tiada orang peduli. Akar. Ya, merekalah akar itu.

Pertemuan menjadi semakin besar, oleh kedatangan Gari dan Sulis, dan ketika kita bergerak menuju gedung 5 kembali kita disambut oleh Sofi dan suami, lalu ada Didiet ’99, Yayu ’99 dan Salman anak mereka . Wow, rindu bertambah menjadi besar. Konon Hawari, Agah, Vidi, Hilmi, dan Kholid akan menyusul, kelimanya angkatan ’99.

Akhirnya panggilan MC di plasa mengiring kita berjalan menuju plasa yang telah ramai terisi orang-orang. Ya, orang-orang yang menyimpan rindu yang sama pada almamaternya. Di plasa itulah akhirnya kami berjumpa dengan Riza Rinjani ’98 yang sekarang telah memiliki karir yang cukup cemerlang di sebuah bank besar tanah air. Obrolan tak terlalu panjang sebab dinginnya Jatinangor malam itu menarik kami untuk menikmati segelas kopi yang disediakan di ruang dekanat. Dengan diiringi segelas kopi pahit dan teh manis, bincang-bincang dengan kawan-kawan ‘99 berlangsung lebih intim. Hingga setelah cukup hangat kami kembali ke plasa untuk menikmati acara yang dinanti-nanti, yaitu pertunjukan GPL (Grup Pecinta Lagu) Unpad yang menjadi legenda.

Sebelum pertunjukan GPL, dipanggung MC mendulat dua orang angkatan pertama Faperta Unpad, keduanya kini menjadi dosen Faperta Unpad. Mereka memberikan Orasi Kilas Balik 50 tahun Faperta Unpad yang oleh keduanya diplesetkan menjadi “orasiap” karena konon mereka tidak mempersiapkan apa-apa untuk obrolan malam ini. Walhasil orasi kilas balik yang biasanya menjemukan menjadi sangat cair dan segar. Hatur nuhun Kang eceu ’59 yang telah mengingatkan kita untuk terus bersyukur bahwa hari ini ilmu sangat mudah diperoleh. Tak sesulit di era mereka. Salut saya buat mereka, angkatan pertama, yang menjaid cikal bakal kebersamaan yang tertanam hingga 50 tahun Faperta berdiri.

Akhirnya MC mempersilahkan GPL yang dikomandani Abah Iwan untuk naik ke atas pentas. Sebelumnya ada grup Vokal Grup Faperta Unpad, yang membawakan lagu Manuk Dadali yang sepertinya cukup untuk memanaskan malam yang terasa semakin dingin. Malam itu GPL tampil dengan personil yang hampir lengkap, bahkan Aom Kusman yang akrab disapa Unang oleh kawan-kawannya pun hadir malam itu. Sungguh sebuah penampilan yang sepertinya akan monumental. Sebelum GPL bernyanyi, Abah Iwan memanggil dulu Kang Aat Suratin untuk menyampaikan pembuka. Seperti dalam kebiasaan acara yang dibuka Aat Suratin, malam ini pun Lagu Indonesia Raya membuka pertunjukan dengan sangat khidmat, setelahnya Kang Aat berkisah tentang GPL.

GPL membuka pertunjukan dengan sebuah folksong yang sepertinya dari timur tengah yang saya pernah dengar dari kaset rekaman yang 3 tahun lalu diberikan kang Eric Martialis pada saya dan kawan-kawan _sindikat semutmerah yang saat itu membuat video profil Universtias Padjadjaran. Lagu kedua adalah sebuah lagu perang yang saya duga masih sebuah folksong dari timur tengah, dengan tempo yang menghentak cukup membuat kita berdendang dan menimbulkan semangat yang mantap malam itu.

Setelahnya Kang Iwan menyanyikan sebuah lagu pendek yg saya dengar pertamakali dimalam “Boykot” PAM 2002. Liriknya seperti ini,
KMFP my unique one/Please tell me where your home/My home it sit’s in priangan/It’s made of wood and stone.Sebuah lagu yang membuat saya ingin membuat rumah yang terbuat dari kayu dan batu untuk membesarkan anak-anak saya juga ruang pertemuan saya dengan kawan-kawan untuk berbuat yang berarti bagi masyarakat.

Lagu yang katanya lagu penutup adalah lagu MENTARI yang sengaja dipersembahkan bagi kawan-kawan mahasiswa agar tetap memiliki semangat seterang matahari. Khususnya lirik yang dinyanyikan berulang.

Hari ini hari milikmu
juga esok masih terbentang
dan mentari kan tetap menyala disini diurat darahmu


Lagu ini sengaja oleh saya dijadikan pembuka tulisan ini. Sebab lagu inilah yang cukup memberi semangat bagi saya untuk tetap bertahan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran khususnya setelah peristiwa Boykot PAM 2002. Lagu ini konon diciptakan ketika terjadi pendudukan kampus Dipatiukur oleh militer ketika akhir kejayaan orde lama. Dari sejak diperdengarkan pertamakali hingga hari ini lagu Mentari terus memberikan semangat yang berarti bagi hidup saya hingga kini.

Mentari menyala disini
Disini didalam hatiku
Gemuruh api nya disini
Disini diurat darahku

Hmm,akhirnya pertunjukan harus usai juga. Dinyanyikanlah satu lagu setelah endcore. Lagu “Almamater” lah yang dinyanyikan sebagai penutup yang merupakan lagu favorit Profesor Ganjar Kurnia ,Rektor Unpad saat ini yang merupakan lulusan Fakultas Pertanian. Yang seperti diutarakan Abah Iwan lagu ini telah menjadi sakral bagi mereka, dan kita semua.

Kan kutunjukan padamu
Kan kubuktikan padamu
Rasa bangga dan baktiku Almamater

Meski telah jauh darimu
Meski kau kutinggalkan
Rasa bangga ku padamu almamater

Dengan lindungan Tuhanku
Dengan semangat darimu
Ku akan selalu berjuang, almamater


Hadirin meletakkan tangan kanan di dada kiri nya sembari malantunkan lagu itu. Setelahnya riuh semangat dan Standing Aplaouse dipersembahkan tak hanya bagi GPL yang tampil dahsyat malam itu, khususnya bagi Almamater kita Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Selamat Ulang Tahun Emas Fakultas Pertanian, rasa bangga dan baktiku untukmu.

Kini saya tahu, apa yang menguatkan niat saya untuk menghadiri Dies Natalies Emas Faperta Unpad.

Rasa bangga dan baktiku Almamater.

Monday, July 27, 2009

tentang kalung mutiara imitasi itu

kamu sudah ceritakan tetang kalung mutiara imitasi itu... dan sekaranglah mungkin saatnya kmu peroleh kalung mutiara aslimu... percayalah... sebab Tuhan tidak pernah bermain dadu...

Monday, July 20, 2009

kidung 3.1

dara yang baik... tidurlah... sebab esok kau harus bangun pagi menemui mataharimu... nanti kalo sempat dan kamu tak terlalu lelah... temui aku di bukit bunga dibalik bula...

tabik,
celeng

DINDA DIMANA - Katon Bagaskara



kala senja, aku mereka-reka rencana...

Efek Samping

Kalau di tilik-tilik, pada kisaran tahun 1999-2003/2004 kondisi keimanan saya lumayan canggih. Saat itu merasa siap mati. Sy tidak khawatir, karena sy menganggap Allah benar-benar dekat, entah sebagai Sahabat untuk berbagi, atau sebagai Tuhan.

Dan diatas tahun itu, yang ada hanyalah radikalisme pemuda, radikalisme ideologi, keinginan untuk eksis dan berkoar-koar, berkobar. Sy masih ‘malu’ untuk mengakui bahwa di dalam diri sy terdapat keinginan untuk ‘terlihat’ become a famous idol of resistance, sementara hati kecil ini sy borgol, sy sudutkan.

“Manusia memang membutuhkan pengakuan,” ucap seseorang yang nafasnya bau Gudang Garam.

Perkataan kawan saya itu memang manis, terasa renyah, kelihatan bijak. Tapi renyah, manis, bijak dari sudut pandang apa? Jika tak menyebabkan datangnya rahmat dan pahala, untuk apa?

Kita mungkin pernah mendengar, bahwa ujian pertama orang-orang besar bukanlah diosol-osol, diadu-adu, tetapi disanjung-sanjung sampai tinggi sampai tak bisa bernafas lagi, karena jiwa ini terbang jauh menuju atmosfer. Karena jiwa ini melayang tinggi membuat sesak.

Tak baik, tak boleh. Sy bukan orang besar. Sy hanya orang kecil yang berusaha untuk membakar keinginan akan semerbaknya sebuah nama. Karenanya, kini, sy berusaha tak peduli dengan ‘eksibionisme’ secular mengenai manusia harus eksis secara total.

Dalam konsep sy yang sekarang: eksis itu tidak berharga apabila pencapaiannya diawali, dilalui oleh keinginan untuk menjadi eksis. Eksis itu harus muncul alamiah. Harus muncul dari valensi. Karena valensi (menjadi terkenal karena usaha, bakat, karena kecedasan, skill) itu merupakan efek samping. Bukan tujuan. Tapi efek samping.

Diposkan oleh Divan Semesta Jumat, 2009 Juni 26 di http://divansemesta.blogspot.com/2009/06/efek-samping.html

notes: ini adalah catatan yang saya curi dari blognya Divan Semesta, maklum sedang buntu menulis... tapi kurang lebih seperti inilah yg ada dikepala saya akhir-akhir ini... terimakasih Divan sudah mengingatkan... semoga Allah dan para Syuhada senantiasa bersama kita...

Kidung 3.0

dara yang baik. kamu tahu bener apa yg aku pilih. namun bila itu gagal bukan berarti kita tidak pernah berusaha sampai titik darah penghabisan... dukaku, adalah dukamu yang tertusuk ilalang...

tabik,
anak babi

Monday, July 13, 2009

kidung 2.4

Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS.Al-Baqarah:216)

Friday, July 10, 2009

kidung 2.3

kamu bilang bahwa tak ada yg harus disesali...
doakan bahwa masih ada esok pagi untuk kita dara...

Thursday, July 09, 2009

aku pulang

:dara

akhirnya siang itu aku memutuskan untuk pulang...
sebab disanalah Tuhan meletakkan surgaku...
tepat dikaki bundaku..

siang itu, aku pasrahkan jiwa meski terluka..
sebab dikakinyalah tempat pertemuan kita selanjutnya...


celeng

Tuesday, July 07, 2009

untitled no 183

diam-diam mataku bocor persis seperti matamu pagi tadi...

Wednesday, July 01, 2009

Kidung 2.2



saat FAJAR ABADI menyanyikan lagu ini di Jatiwangi Art Festival 2008, aku mengingatmu.. tapi tak kuasa menjumpaimu...

Tuesday, June 30, 2009

menjadi mustika

kamulah yang pertama menunjukkan mustika itu padaku. aku ingat benar malam itu. diatas sofa putih yang akan aku rindukan. meski lentera padam malam itu, tapi aku bisa mencium harumnya dengan yakin. dan malam itu kamu memberikannya padaku. mustika itu telah kau simpan dalam-dalam. kau rawat, kau mandikan, dan kau simpan dalam lemari kaca agar terhindar dari debu. padahal aku yakin bukan debu yang kau hindari, tapi tangan-tangan jahil yang menginginkannya.

malam ini tiba-tiba aku ingin menjadi mustika itu.

Sunday, June 28, 2009

Kidung 2.1

lukanya belum lupa. seperti suka yang menjadi duka. dalam setiap detik tik tak jarum jam yang berdetak cepat. dalam setiap dosa yang kita lewatkan bersama. ada kenangan yang kita torehkan dengan duka. kamu, ada adalah aku besok lusa..

Wednesday, June 24, 2009

HANCUR HATIKU



hancurlah berantakan semuanya...

Tuesday, June 23, 2009

berantakan!

berantakan banget semuanya!!!!!!!!

kidung

aku tahu benar.. subuh itu kamu merapat ke pundak ayahmu, sebab kau dapati telah disia-siakan dengan luka yang menganga, luka yang sulit kau tinggalkan, yang telah membekas dalam-dalam. aku telah mengkhianatimu. bukan karena enggan, namun kenyataan yang tak terhindarkan. padahal kamu telah menancap dalam malam dalam-dalam.

selepas kecupmu, aku kebas..

subuh itu, aku tahu benar akan menyesali malam kemarin...

pesan

senja itu celeng mengirim pesan pada dara "its happen for a reason, but its hard for me to find it.... ga sama2 kamu itu aku kacau... makan siang aja sampe sekarang belum...".. dan dara tak membalasnya...

Monday, June 08, 2009

untittled

jika saja hanya cantik yang aku cari, lalu apa bedanya aku dengan kebanyakan lelaki yang bertebaran di muka bumi ini? aku mencari surga di bukit bunga dibalik bulan... yang konon disembunyikan Tuhan dibawah kaki Bunda...

untittled

sejatinya MENCINTAI itu cukup melihatnya BAHAGIA tp nafsu membuatnya lain.... keinginan untuk MEMILIKInya jauh lebih besar ketimbang keinginan membuatnya BAHAGIA....

Related Posts with Thumbnails